Ucapan Selamat Datang

SELAMAT MENYIMAK SETIAP ULASAN YANG KAMI SAJIKAN
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Oktober 2014

Surat Terbuka Untuk Anggota DPR-RI

By : Pakdhe U ®

JBR/id. Saya hanya rakyat biasa. Tidak lebih dari sekedar sopir dan pencari rumput untuk ternak. Tapi itu tidak menjadikan alasan kemudian ada larangan bagi saya untuk mengirimkan surat terbuka ini, yang sangat saya khususkan kepada para anggota DPR-RI yang sudah resmi dilantik tanggal 1 Oktober 2014, baru lalu. Semoga apa yang saya sampaikan bisa memberikan pemahaman tersendiri bagi anda dalam berjuang di Parlemen.

Senin, 29 September 2014

DPR Bukanlah Wakil Rakyat!

By : Pakdhe U ®

JBR/id. DPR merupakan singkatan dari Dewan Perwakilan Rakyat. Ini artinya pekerjaan anggota dewan di parlemen adalah mewakili rakyat secara proporsional. Katakanlah satu anggota dewan mewakili suara satu juta rakyat, ini artinya satu anggota dewan tersebut memiliki wewenang untuk mewakili keinginan satu juta rakyat. Tapi benarkah hal itu yang terjadi? Apakah mungkin seorang anggota dewan sebenarnya hanya mewakili Partai atau justru mewakili kepentingan segelintir kelompok tertentu?

Sabtu, 27 September 2014

Pilkada Tidak Langsung, Demokrasi Mati?

By : Pakdhe U ®

JBR/id. Akhirnya, tadi malam (26 september 2014)  Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat memutuskan untuk menyetujui pemilihan Kepala Daerah dilakukan oleh DPR. Keputusan ini sebetulnya merupakan keputusan yang kontroversial, mengingat alasan yang di argumentasikan oleh para anggota Dewan, baik yang pro Pilkada Tidak Langsung maupun Pilkada Langsung.

Jumat, 12 September 2014

Wacana "PILKADA TIDAK LANGSUNG", Dagelan Politik Gaya Baru

Opini By : Pakdhe U ®

Jember.id/ Gonjang-ganjing panggung politik Indonesia kian hari kian seru saja untuk diikuti, meskipun jika dinalar dengan akal waras, sangat jauh dari kata masuk akal. Yang terbaru, dan cukup membuat miris adalah tentang RUU Pilkada yang mengusulkan akan pemilihan Kepala Daerah Tidak Langsung. Alias, jika RUU ini di sahkan oleh DPR, pemilihan Kepala Daerah akan dilakukan oleh anggota Dewan. Saya rasa ini hanyalah sebuah dagelan belaka.

Senin, 28 Juli 2014

ISRAEL Itu Siapa?

By : Pakdhe U ®

Jember.id/ Israel…. Siapa sih sebenarnya Israel itu? Apakah mereka adalah sekumpulan Ahli Kitab yang merasa dirinya paling benar? Atau hanya sekumpulan bandit-bandit pengecut yang mengaku-ngaku sebagai (keturunan) Dewa? Tidak ada yang tahu! Yang orang tahu hanyalah; dari jaman kemaluan saya masih disumpal popok, sampai sekarang sudah memiliki anak yang membutuhkan popok, tidak ada lain hal yang selalu dilakukan oleh Israel kecuali senantiasa menebarkan maut, mengobral kematian dan mengumbar kejahanaman mereka dalam menumpahkan darah.

Pertanyaan saya adalah; apakah mereka tidak memiliki Tuhan? Apakah mereka tercipta dari setiap tetes darah manusia tak berdosa yang telah mereka bantai? Atau justru sebenarnya mereka tidak pernah terlahir sebagai manusia; karena jika mereka terlahir sebagai manusia tentulah tidak masuk akal jika perilaku mereka selalu mengumbar derita, bagai perilaku Iblis Laknat.

Sudah tak terhitung banyaknya; nyawa anak-anak Lebanon (pada masa perang Lebanon), nyawa anak-anak Palestina, Wanita yang tak berdosa, dan masyarakat sipil yang sebenarnya sangat mendambakan perdamaian. Ratusan, ribuan dan bahkan jika dihitung sejak berdirinya Zionis tersebut,mungkin angkanya akan menyentuh jutaan. Inikah yang disebut perilaku Ahli Kitab? Sementara mereka senantiasa menafikkan kebaikan-kebaikan yang diajarkan dalam (hampir) semua Kitab Suci?

Pada era perang Lebanon, para petinggi-petinggi militer Israel mendalilkan alasan demi menghadapi milisi Taliban (kalau saya tidak salah; soalnya waktu itu saya masih pakai popok) yang notabene merupakan kelompok perlawanan dengan persenjataan ala kadarnya. Saat ini, yang didalilkan adalah demi menghadapi kelompok Hamas yang juga hanya bermodalkan persenjataan ala kadarnya (jika dibanding persenjataan Israel).

Pesawat tempur canggih, tank canggih dan persenjataan modern lainnya menjadi kelengkapan standar Israel dalam menghadapi Hamas, atau lebih pantas justru masyarakat sipil Palestina yang hanya bermodal ketapel dan roket biasa. Salahkah saya jika kemudian menyebut Israel sebagai sekumpulan bandit-bandit pengecut? Betapa tidak; untuk menghadapi serbuan ketapel, senjata ringan dan roket biasa, mereka mengerahkan tank-tank besar, tekhnologi iron dome, dan jet-jet tempur canggih. Kalau mereka berani dan fair, perang satu lawan satu belum tentu akan mereka menangkan.

Sekali lagi; Israel itu siapa? Kok sampai-sampainya Perserikatan Bangsa-Bangsa seolah kehilangan taji, kehilangan gigi dan kehilangan suara menghadapinya. Padahal beberapa diantara target yang dihancurkan Israel adalah Fasilitas milik PBB. Kemana PBB? Apakah mereka sibuk mengganti Popoknya yang basah, demi melihat kebiadaban Israel?

Ingat, para petinggi Dewan Keamanan PBB, perdamaian adalah hak segala bangsa; tidak perduli mayoritas, minoritas, bahkan memiliki paham yang berbeda, perdamaian sangat mutlah harus diupayakan oleh PBB. Tapi; Israel itu siapa? Kok PBB terlihat begitu takutnya mengeluarkan sanksi. Padahal jika PBB bekerja dengan berlandaskan pada hati nurani, bukan tidak mungkin Israel dengan segala arogansinya, dengan segala klaim kebenarannya dan dengan segala kebiadabannya akan segera sembuh dari penyakit algojonya.

Apa gunanya PBB tetap berdiri jika menghadapi Israel saja bagaikan kucing bertemu anjing. Tentu kita semua tahu siapa yang kucing dan siapa pula yang anjing?! Jika begini terus, sebaiknya bubarkan saja PBB, toh tidak ada manfaatnya bagi perdamaian dunia. Gedung PBB yang megah itu, rubah saja jadi hotel atau rumah sakit!

Untuk bangsa Palestina yang saat ini sedang tertindas oleh Israel, saya hanya bisa berdo’a untuk kesabaran, kebesaran hati dan kekuatan anda dalam menghadapi kebiadaban tanpa ujung ini. Semoga pula kesabaran dan kekuatan tersebut akan mengiring Bangsa Palestina menuju Kejayaan di sisi Allah dan bagi yang menjadi korban meninggal, Allah telah menjanjikan mereka dalam keadaan SYAHID karena telah meninggal dalam membela akidah dan Panji-panji Islam. Insya Allah.

Untuk semua umat Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan semua umat yang mengaku memiliki Tuhan, mengaku sebenarnya sebagai manusia yang beradab (bukan biadab), ayo kita galang persatuan, kita padukan do’a (dengan cara masing-masing) kita untuk saudara kita di Palestina agar senantiasa diberkahi kekuatan, keimananyang teguh dan ketegaran tanpa batas. Ayo kita pelopori Gerakan Kemerdekaan Palestina dari Zionis biadab. Ayo kita bersatu padu mendorong PBB untuk bertindak lebih tegas atau sebaiknya membubarkan diri saja.

Ingat; Israel bukanlah siapa-siapa. Israel hanyalah manusia biasa yang berdarah merah; terluka ketika dilukai, bahkan bisa mati kapan saja. Israel bukanlah Dewa yang menganggap dirinya paling benar. Bukan tidak mungkin, jika kita semua bersatu, Israel hanya akan menjadi sisa peradaban manusia yang terbengkalai.

JIKA TIBA SAATNYA

bolehlah kamu menderukan mesiu

dari laras-laras bersimbah darah

dari burung besi bersayap api

dan lentera padam di tanganmu.

tertawalah kamu bagaikan dajjal

ketika kehidupan tercabik dari tubuh anak anak

ketika kesucian terenggut dari wanita wanita

tak berdosa.

ingatlah….

jika tiba saatnya langit menurunkan petunjuk

tersibak ruang menembus tujuh angkasa

jalan bagi serdadu-serdadu langit merapat

tangannya kekar

mata yang sangat tajam menatap.

kamu tidaklah akan bisa berkelit

sejuta serdadumu takkan bisa menangkis.

kamu hancur dalam kepalan serdadu langit

kamu binasa dalam tatapan mata mereka

kamu musnah sebagai yang terlaknat

bahkan keringatmu takkan bersisa

Bentuk keprihatinan atas melempemnya PBB terhadap Israel; By Pakdhe U | 2014.

Sabtu, 12 April 2014

Cerita Bang Caleg

Oleh : Pakdhe U ®

Jember.id. Tanggal 9 April 2014 sudah berlalu. Pesta Demokrasi di Indonesia sudah menjadi bagian dari  masa lalu. Para kontestan Pemilu, baik itu Partai maupun para Caleg (calon Legislatif) sudah mengetahui hasil akhirnya melalui metode Quick Count yang ditayangkan oleh stasiun tv. Kini, yang tersisa hanyalah galau dan getar resah menanti pengumuman resminya awal atau pertengahan bulan depan (Mei).

Berbicara mengenai Pemilu, saya mempunyai sedikit cerita yang mungkin bisa saya share di blog ini. Sebetulnya cerita ini bukan tentang saya, atau tentang Partai. Saya hanya ingin menyampaikan cerita beberapa Caleg yang saya kenal, tentang pengalamannya menjadi caleg. Mungkin apa yang saya sampaikan ini bersifat kasuistis, tapi tidak menutup kemungkinan, juga terjadi di belahan lain wilayah Indonesia.

Sebut saja Bang Caleg, untuk menyamarkan nama sebenarnya, dia memang penduduk asli Kecamatan tempat saya tinggal. Namun, dia lama menjadi pengusaha di Pulau Dewata. Beberapa tahun kemudian, dia pulang dan membuka bisnis air di Desanya. Bang Caleg memang benar-benar pengusaha yang ulet, terbukti hanya beberapa waktu saja, tempat usahanya (bisnis air) sukses besar.

Dengan berbekal kesuksesan usahanya tersebut, dia kemudian mencoba peruntungan di jalur Politik dengan mendaftar menjadi Calon Legislatif sebuah Partai menengah. Keputusan itu diambil setelah beberapa lama menjaring aspirasi masyarakat serta mendapatkan dukungan dari beberapa tokoh masyarakat setempat.

Sejak pencalonannya itu, beberapa hal sudah mulai dia lakukan untuk masyarakat. Entah tujuannya untuk meraih simpati atau memang niatan yang tulus, yang pasti semenjak saat itu, khususnya pada saat-saat tertentu, dia menggratiskan tempat usahanya untuk masyarakat. Dan itu terus berlanjut dan berlanjut dengan hal-hal gratis lainnya. Misalnya, pengebrukan jalan desa, pembuatan gorong-gorong dan banyak hal lainnya yang dilakukan di lain tempat.

Bukanlah Caleg jika dia tidak membentuk tim sukses. Pun demikian dengan Bang Caleg yang satu ini, beberapa pemuda desa didaulat untuk menjadi tim suksesnya. Bahkan, tim sukses tersebut dibagi berdasarkan TPS berada. Fasilitas yang didapat oleh tim sukses, selain beberapa liter bensin untuk sosialisasi (mungkin lebih jujur dikatakan pembujukan) kepada masyarakat, makan gratis dan rokok juga selalu disediakan.

Puncaknya pada tanggal 8 April 2014 malam, atau beberapa jam saja dari waktu pencoblosan, semua anggota tim suksesnya disebar untuk bertamu kepada warga, satu persatu. Tujuannya apa? Sekali lagi untuk membujuk warga agar tidak lupa memilihnya esok hari. Dengan titipan Rp. 10.000,- per kepala pemilih. Jadi, jika di rumah tersebut ada 3 pemilih, maka titipan yang didapat sebesar Rp. 30.000,-

Lalu, mengapa hal ini yang merupakan indikasi Politik uang tidak dilaporkan? Jawabannya adalah, karena hampir semua Caleg yang berada di Dapil tempat saya tinggal juga melancarkan jurus serupa, meskipun cara dan bentuknya tidak sama. Ada yang memberikan layanan kesehatan gratis (karena sang Caleg seorang professional di bidang kesehatan), ada fasilitas makan bakso gratis di saat pencoblosan, ada fasilitas sembako gratis dan banyak hal lainnya.

Kalau harus dilaporkan, semua Caleg pasti akan kena jaring dan akibatnya tidak ada satupun Caleg yang bisa dipilih. Lagipula, masyarakat di tempat saya tinggal berpendapat; urusan uang, urusan sembako, urusan kesehatan gratis adalah rejeki yang tidak bisa ditolak, namun untuk urusan pilihan apa yang akan diambil adalah tergantung hati nurani yang tidak bisa terbeli. Boleh terima apa saja tapi jangan harap pilih dirimu, begitu kira-kira.

Kenyataannya, Bang Caleg yang sudah berkorban begitu banyak, toh tidak menang mutlak di tempat saya. Ada TPS yang dia menangkan, ada pula TPS yang gagal dia menangkan. Ya begitulah dinamika demokrasi di Indonesia. Ada uang, ada barang, ada suara tapi belum tentu ada kemenangan.

Ada kemenangan, ada dukungan namun jangan salah, belum tentu hal itu membawa menuju kekuasaan.

Penulis : Pakdhe U ®| Windows Live Writer | Blogger | You Tube | ©Copyright @2014.By Pakdhe U ®

Minggu, 14 Juli 2013

BLSM

Bantuan Langsung Yang Kurang Merata

Oleh : Pakdhe U ®

Jember,IN—BLSM, atau dulu bernama BLT, adalah salah satu bentuk kompensasi dari kenaikan harga BBM. BLSM adalah bantuan berupa uang tunai dengan besaran tertentu yang bersifat sementara, yaitu hanya untuk beberapa bulan saja. Kalau dulu BLT memiliki kepanjangan Bantuan Langsung Tunai, untuk saat ini, BLSM memiliki kepanjangan Bantuan Langsung Sementara untuk Masyarakat Miskin.

Menurut beberapa tetangga saya, yang kebetulan mendapatkan jatah BLSM, padahal yang lebih miskin dari dia lebih banyak, jumlah bantuan yang diterima tidak kurang dari Rp. 300.000,- saja. Cukup? Tentu masih jauh dari kata cukup, kata mereka, mengingat saat ini semua harga kebutuhan hidup meroket begitu tingginya, mengikuti kenaikan harga BBM. Seperti pernah saya singgung dalam tulisan saya sebelumnya, Tsunami Ekonomi, beban rakyat miskin semakin berat mengingat momen kenaikan harga BBM sekaligus menjelang Bulan Ramadhan dan Tahun Ajaran Baru.

Menurut Pemerintah, peluncuran BLSM sudah melalui kajian yang sangat mendalam dan melewati tahapan-tahapan yang sistematis. Dalam artian, setiap siapapun yang berhak menerima bantuan tersebut adalah benar-benar miskin dan layak menerima bantuan (menurut kacamata Pemerintah), karena sebelumnya mereka sudah didata sedemikian rupa. Mungkin itu benar menurut Pemerintah. Tapi, bagaimanakah kenyataan di lapangan?

Apa yang saya sampaikan dalam tulisan ini, tentu tidak bisa dijadikan sebagai landasan secara umum, karena data yang saya gunakan hanyalah sebatas lingkungan tempat saya tinggal. Namun demikian, setidak-tidaknya hal ini menjadi sebagian kecil gambaran yang sangat mungkin terjadi di masyarakat secara luas.

Di Desa tempat tinggal saya, pun di kota Kecamatan, sebagaimana yang disyaratkan oleh Pemerintah, bahwa siapapun yang akan menerima BLSM harus memiliki Kartu Keluarga (KK), serta Kartu Tanda Penduduk (KTP) tentunya. Namun, ternyata ada beberapa orang di Desa saya, khususnya janda-janda tua yang sudah tidak memmiliki KTP maupun KK, dengan alasan sudah lemah dan renta jika harus mengurus sendiri ke Kelurahan.

Karena mereka tidak memiliki apa yang menjadi persyaratan menerima BLSM, sementara pihak Kelurahan tidak menjemput bola untuk memberikan layanan pembuatan KTP dan KK bagi mereka, misalnya dengan memberikan layanan kendaraan gratis untuk mengantar dan menjemput mereka ke Kantor Kecamatan, tentulah mereka luput dari pendataan calon penerima BLSM.

Sekarang begini, kriteria miskin menurut Pemerintah adalah dilihat secara visual dan bukan secara real. Maksudnya begini; masyarakat yang memiliki rumah dengan dinding tembok, berlantai plester atau keramik, atau setidaknya memiliki kendaraan sepeda motor, tidak bisa dikategorikan sebagai miskin. Mereka termasuk golongan Pra Sejahtera maupun Sejahtera 1.

Padahal, di tempat saya ada yang memiliki rumah tembok berlantai keramik dan memiliki sepeda motor, tapi dalam kehidupan sehari-hari sangat susah. Apa yang didapat hari itu, akan habis hari itu juga, ibaratnya. Lalu, bagaimana dia bisa mempunyai rumah berlantai keramik? Dia tidak pernah memiliki rumah, sementara rumah yang dia tinggali itu hanyalah bentuk dari kebaikan seseorang yang meminta dia untuk menempatinya sekaligus menjaga dan merawat setiap hari. Bagaimana dengan sepeda motornya? Itu juga pemberian dari pemilik rumah sebenarnya untuk modal kerja mengojek, sebagai ucapan terimakasih karena rumahnya sudah dijaga.

Secara visual, orang ini termasuk Sejahtera. Tapi jangan salah, secara real, dia termasuk keluarga miskin. Karena untuk makan sehari saja adakalanya tidak mencukupi. Meski dibantu dengan kerja serabutan menjadi buruh maupun kuli, sekalipun. Sekarang, berapa besar sih penghasilan tukang ojek di desa? Dia tidak mendapatkan BLSM.

Di lain pihak, ada yang kelihatannya miskin, karena tinggal di rumah berdinding bambu, berlantai plester biasa sebagian dan berlantai tanah secara umum, tidak memiliki kendaraan apapun. Padahal orang ini cukup mampu karena selalu mendapatkan kiriman dari anaknya yang bekerja di Malaysia dalam bentuk tabungan. Bahkan, dari tabungan tersebut, dia juga memiliki sepetak sawah. Dan berkat rumahnya yang jelek secara visual, dia mendapatkan BLSM. Secara real, seharusnya dia tidak berhak.

Saya tidak ingin berdebat tentang masalah ini, karena memang hal ini tidak debatable dan boleh disebut termasuk satu masalah yang memiliki relatifitas cukup besar. Tapi, bukan berarti saya diam dan menutup mata untuk semuanya. Saya hanya sekedar memberikan gambaran tentang situasi pembagian BLSM di tempat saya yang sepertinya kurang merata. Entah di daerah anda?

Saya melihat di berita televisi, ada beberapa daerah yang dalam pembagian BLSMnya terdapat orang-orang yang menenteng handphone mahal (meskipun mungkin hanya bekas), memakai kalung emas (meskipun mungkin hanya sepuhan), membawa sepeda motor (meskipun mungkin pinjaman) dan berbaju cukup boleh dikatakan baik. Lalu, mengingat di desa saya juga demikian, apakah ini artinya pembagian BLSM memang benar-benar kurang merata? Ini sudah menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah sejak dulu untuk menuntaskan permasalahan ini.

Ingat, rumah bagus belum tentu kaya dan sebaliknya, rumah jelek belum tentu juga miskin. Pemerintah harus lebih jeli dan hati-hati dalam mendata orang-orang miskin di negeri ini. Pertanyaan yang sangat krusial bagi saya adalah, seberapa banyak sebenarnya warga negara Indonesia yang betul-betul miskin? ( Pakdhe U ®/windows live writer/blogger/2013)

Sabtu, 20 April 2013

Lagi Lagi Bikin Pusing

Kenaikan Harga BBM, Harga Mati

Artikel By: Pakdhe U®

Jember—INA. Baru beberapa hari yang lalu, saya menulis tentang BBM, Baca Ini, sekarang saya juga akan kembali mengulas tentang BBM. Jika dalam artikel sebelumnya saya lebih mengulas tentang pembatasan-pembatasan yang memusingkan, saat ini saya akan menyinggung tentang wacana, atau mungkin sudah diputuskan, tentang kenaikan harga BBM yang sepertinya sudah harga mati. Saya menulis ini, setelah melihat tayangan di berita televisi tentang rencana kenaikan harga BBM, yang keputusannya diperkirakan akan ditentukan akhir pekan lalu (14/04) oleh Pemerintah.

Yang sangat menarik perhatian saya adalah, rencana Pemerintah menetapkan harga BBM dalam dua harga yang berbeda. Satu harga untuk masyarakat miskin sedangkan harga yang lain untuk masyarakat kaya. Untuk sementara, menurut keterangan Pemerintah, penerapan disparitas harga tersebut masih dipertimbangkan, dan salah satunya adalah menggunakan teknologi IT agar tidak salah sasaran. Opsi yang paling cepat bisa dilaksanakan adalah pembedaan berdasarkan warna Pelat Nomor Kendaraan; Pelat warna kuning, atau angkutan umum, mendapat jatah harga BBM murah, sedangkan yang berpelat hitam, dalam hal ini adalah kendaraan pribadi, diharuskan menggunakan harga BBM yang lebih mahal. Namun, sekali lagi ini masih perlu dibicarakan lebih jauh tentang penerapannya, begitu menurut sumber pemerintah.

Keputusan ke arah itu (disparitas harga) sepertinya memang sudah bulat, meskipun belum jelas kapan implementasinya. Ini terindikasi dari keterangan dua Menteri kita, Menteri ESDM dan Menko Ekuin, yang menyatakan bahwa akan ada penerapan harga ganda untuk BBM. Katanya dalam keterangan tersebut, untuk motor, angkutan umum pelat kuning dan petani nelayan, akan tetap menikmati harga BBM Rp. 4.500,- / liter. Sedangkan untuk mobil pribadi atau kendaraan pelat hitam, harus menebus harga BBM Rp. 6.500,- / liter. Cukup membuat pusing, apalagi jika penerapan harga berbeda tersebut tidak pada satu SPBU yang sama. Jadi nantinya, bagi pemilik kendaraan pelat hitam, kecuali motor, harus membeli di SPBU A, sedangkan yang lain harus di SPBU B.

Tapi, sialnya keputusan itu masih menunggu selesainya sosialisasi ke masyarakat dan kesiapan SPBU dalam memberikan layanan. Hal ini yang kemudian menjadikan masyarakat panik dan melakukan aksi borong BBM gila-gilaan, yang pada akhirnya semakin memperburuk kondisi kelangkaan BBM yang sudah terjadi. Kalau sudah begini, yang susah sekali lagi juga Rakyat kecil. Kalau pejabat mah, enjoy aja dan malah memamerkan ke masyarakat kalau akun twitternya memiliki followers sekian ratus ribu. Hahahah, masih sempat-sempatnya maen twitter disaat masyarakat kelimpungan mencari BBM untuk modal mencari nafkah!? Kalau sudah begini, yang gila siapa? Eh, bahkan ada yang lebih parah loh, ditengah krisis BBM yang mendera rakyat ada juga anggota DPRD yang terhormat menikahi sirri tiga PSK sekaligus. Oalah Pak-Pak, kalo sama PSK mah bukan nikah namanya, tapi jajan. Mau apa doyan tuh?!

Sepertinya, pengaturan seperti ini sangat tidak praktis. Mengapa? Konsumen masih akan dipusingkan untuk mencari SPBU yang sesuai dengan kendaraan mereka. Belum lagi potensi penumpukan kendaraan pada SPBU “murah” yang sudah pasti akan diserbu konsumen. Tapi entahlah, saya tidak mau ambil pusing. Itu sudah menjadi urusan Pemerintah. Becus tidak becus, itulah kenyataan yang harus kita hadapi.

Kembali ke soal BBM, Seharusnya pemerintah tegas. Kalau mau naik, ya naikkan aja sekarang, jangan tunggu ini dan itu. Kalau kelamaan tunggu ini dan itu, para mafia-mafia BBM justru bersorak kegirangan karena sudah hampir pasti akan menangguk untung lebih besar. SPBU jangan dibeda-bedakan, yang ini untuk kaya, yang itu untuk miskin. Jadikan satu saja, toh mesin dispensernya kan sangat banyak. Selama ini ada tuh mesin dispenser yang di sendirikan khusus untuk motor, kenyataannya bisa. Kalau yang dipermasalahkan adalah harga pembelian ke Pertamina? Kok Goblok banget, bukannya setiap dispenser ada komputernya yang memberikan catatan berapa liter BBM dikeluarkan. Untuk dispenser non subsidi habis berapa liter dikalikan harga non subsidi. Begitu juga yang subsidi, habis berapa liter dikalikan harga subsidi. Semuanya dijumlahkan baru itu yang dibayarkan ke Pertamina. Toh BBM yang dijual jenis, tipe maupun kualitasnya juga sama kan?  Yang beda kan harganya? Kecuali kalau beda jenis, tipe dan kualitasnya, ya lain lagi. Eh, tapi tunggu sebentar, mungkin saya yang Goblok kalau ternyata gak semudah itu. Heheheh, Maaf.{Pakdhe U | Pakdhe U | Windows Live Writer© 2004-2013}

Disarikan dari berbagai sumber.

ARTIKEL TERBARU >>

Artikel Terkait:

  1. Beban Rakyat Kecil Semakin Berat
  2. BBM = Benar Benar Menyusahkan
  3. BBM Naik, Salah Siapa?

^^ Sudah, kalau mau perang, ya perang saja sana. Tapi jangan sampai ajak-ajak saya ya? Soalnya saya benci perang! ^^

Kamis, 18 April 2013

Pendidikan Indonesia Melawak

Ujian Nasional Diundur, Waah Gawat!

Menteri : SAYA MOHON MAAF

Artikel Oleh Pakdhe U®

Jember—INA. Baru kali ini terjadi! Sebuah hajatan besar yang menyangkut reputasi sebuah Bangsa, yang hanya karena salah memilih perusahaan percetakan, atau mungkin keasyikan main-main jejaring sosial, akhirnya harus tertunda pelaksanaannya. Itupun juga masih kocar-kacir. Weleh-weleh!!! Memalukan! Tapi, tunggu dulu. Mungkin para punggawa di bidang Pendidikan stress menghadapi kelangkaan BBM untuk mobil-mobil mewah (kreditan) mereka, jadi mereka sengaja melawak biar stress hilang. Bukannya stress kalau hajatan sebesar dan sepenting Ujian Nasional dijadikan bahan lawakan. Yang ada juga Gila.

Tapi tenang Bro, Pak Menteri kita kan sudah minta maaf pada saat dipanggil Presiden?! Beliau kan juga sudah minta maaf pada kita semua? Tapi masalahnya, apa cukup dengan maaf itu saja? Bagaimana nasib psikologi adik-adik kita yang Ujiannya terpaksa diundur, diundur dan mungkin diundur lagi? Apa tidak stress keliwat stress tuh? Apa kompensasinya buat mereka? Bagaimana pula dengan hasil akhirnya jika kemudian tidak lulus? Bisa gila beneran tuh Pak! Sudah ujian diundur, mikirnya berat, eeeh, gak lulus. Tanggungjawab siapa?

Pendidikan adalah modal utama dalam membangun bangsa. Kata orang-orang pintar jaman dulu sih seperti itu. Tapi, kalau penanganan Pendidikan sudah tidak beres, alias tidak becus, alias apalah namanya seperti ini, bagaimana jadinya Bangsa ini? Yang ada malah kita ditertawakan dari Kutub Utara ke Kutub Selatan, dari Afrika sampai Nauru. Aah, gimana nih negara Indonesia, Negara Besar, banyak orang pintar (termasuk paranormal - kan orang pintar juga), banyak juga orang kaya (meskipun hasil korupsi), kok Ujian negara saja pakai diundur-undur. Yang gak becus itu yang milih menterinya, yang milih percetakannya atau yang milih kedua-duanya.

Oya, seharusnya peristiwa ini dimasukkan ke dalam Rekor Muri atau di daftarkan ke Guinnes Book Of World Record. Kan belum ada tuh selama ini sebuah negara menunda Ujian Nasional di sebelas (bayangkan sebelas) propinsi hanya karena keterlambatan pencetakan soal? Bisa dapat Piagam tuh Pak Menteri dari Muri. Hehehe, Maaf ya? Lhaiya, kata sebagian orang yang saya temui,sudah diberi Wakil untuk membantu kerjanya, eh kok malah gak karu-karuan.

Perkembangan terbaru yang berhasil saya dapatkan infonya adalah, pada sebagian wilayah yang terpaksa diundur ternyata malah terancam diundur lagi karena ketidakberesan distribusi soal ujian. Ini cukup membuat gila dan gilanya lagi malah diperparah oleh pernyataan dari Wakil Menteri, bahwa bagi siswa yang ujiannya diundur dan kebetulan apes tidak mendapatkan soal, bisa mengikuti ujian susulan. Nah ini gimana? Bukannya Ujian susulan itu konotasinya tidak baik? Bakal semakin membuat stress siswa nih ceritanya.

Namun, apapun itu dan apapun yang terjadi, Tetap Semangat dan Pantang Menyerah Ya? Semoga Lulus Ujian! {Pakdhe U | Pakdhe U | Windows Live Writer © 1804-2013}

Disarikan dari berbagai sumber

ARTIKEL TERBARU >>

PERANG HANYALAH KESIA-SIAAN  TANPA MAKNA, TANPA ARTI, TANPA NURANI DAN TANPA BELAS KASIH; MESKIPUN BERGELIMANG PENGHARGAAN BAGI YANG DIANGGAP PAHLAWAN MAUPUN PEMENANG DAN BERTABURAN DERAI AIR MATA SERTA DARAH BAGI YANG TERLUKA. MASIHKAH INGIN KAU LANJUTKAN PERANGMU?

Jumat, 29 Maret 2013

Biaya Demokrasi

By. Pakdhe U®

Jember-INA. Siapa orangnya yang tidak suka menjadi Kepala Desa? Mungkin ada yang tidak suka, namun itupun hanya bisa dihitung dengan jari. Siapapun pasti suka dan mau menjadi Kepala Desa. Bagaimana tidak mau? Sudah panggilannya keren, Pak Lurah, Pak Inggi, Pak Kades, masih dapat tanah garapan lagi. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk bisa menduduki jabatan sebagai Kepala Desa. Ada yang positif, namun ada juga yang negatif. Apalagi di zaman sekarang, dimana Demokrasi sudah menjadi barang yang lumrah, pemillihan pemimpin dengan cara langsung sudah jamak, tentu banyak cara bisa dilakukan.

Dalam kurun tiga bulan terakhir, terhitung sejak Januari, penulis mengamati beberapa proses Demokrasi di sekitar tempat tinggal penulis. Bahkan satu diantara proses tersebut, penulis mengalaminya sendiri sebagai partisipan. Proses Demokrasi yang penulis maksudkan ialah Proses pemilihan Kepala Desa. Satu di Desa penulis sendiri, dan enam lainnya di Desa yang bertetangga. Khusus di Desa penulis, diadakan pemilihan dikarenakan Kepala Desa sebelumnya meninggal sebelum masa akhir jabatan, sedangkan di Desa yang lainnya karena memang sudah saatnya masa akhir jabatan.

Ada yang menarik dan perlu untuk dicermati dari proses demokrasi ini. Ternyata waktu pelaksanaan pemilihan diadakan secara serentak untuk tiga atau lebih Desa dalam satu Kabupaten. Alasan yang disampaikan juga cukup beragam, sehingga membuat bingung siapapun yang mungkin bertanya. Tapi untungnya tidak ada yang bertanya, kecuali penulis mungkin? Kalau menurut penjelasan Perangkat Desa yang penulis kenal; penentuan hari pelaksanaan secara serentak ditujukan untuk penghematan anggaran. Sepertinya memang masuk akal, mengingat biaya pelaksanaan, pengamanan dan segala macam kebutuhan pemilihan untuk satu pemilihan saja cukup besar.

Tapi, dilain pihak ada yang mengatakan jika pelaksanaan yang demikian tersebut (serentak-pen.) bertujuan untuk memecah konsentrasi para Penjudi Kakap yang turut bermain-main dalam proses tersebut. Uniknya, yang mengeluarkan pendapat ini justru dari pihak keamanan yang mungkin memang sudah mengindikasikan akan adanya perjudian dalam Pemilihan Kepala Desa, tapi tidak memiliki kemampuan untuk menangkap penjudi-penjudi tersebut. Dalam sebuah obrolan di warung kopi, banyak “orang asing”, yang penulis tidak mengenalnya, berkeluh kesah dan mengatakan menjadi bingung dan kesulitan untuk “bermain” di tiga tempat sekaligus karena modal habis. Ternyata makna “bermain” adalah berjudi. Ini bisa menjadi indikasi bahwa alasan menghindari atau memecah penjudi, juga masuk akal.

Ketika penulis mencoba menelusuri lebih jauh ke beberapa sumber yang terlibat langsung, ternyata banyak sekali hal-hal yang sangat mengejutkan dan sebenarnya tidak mewakili azas Demokrasi itu sendiri. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Peserta Pemilihan Kepala Desa

Ada kesamaan dari sisi peserta diantara semua Desa yang menyelenggarakan Pemilihan Kepala Desa, yaitu keikutsertaan perempuan dalam Pemilihan Kepala Desa. Beberapa diantara mereka merupakan Istri dari Kepala Desa sebelumnya, yang sudah tidak bisa lagi maju dikarenakan sudah menjabat selama dua periode. Ada juga yang merupakan Istri dari Perangkat Desa yang harus maju karena Suaminya tidak memiliki Ijazah yang sesuai untuk maju menjadi calon Kepala Desa.

Kesamaan lain yang ditemukan diantaranya adalah latar belakang dari para peserta pemilihan; ada yang merupakan incumbent, ada yang mantan Kepala Desa yang pada periode sebelumnya tidak terpilih, bahkan ada yang merupakan “Tokoh Besar”, namun dari dunia hitam. Konon kata sebagian besar orang yang penulis temui, Tokoh Besar ini adalah mantan rampok dan sekarang berubah haluan menjadi penadah motor curian. Entah benar atau tidak, namun jika melihat gaya mereka dalam menjaring dukungan, sepertinya memang tidak bisa disangkal lagi.

Bahkan dalam sebuah Desa yang mempunyai Calon tiga orang, semuanya orang-orang yang tidak beres. Satu merupakan mantan pembunuh bayaran, entah sudah insyaf atau belum, namun Calon yang satu ini mengajukan Istrinya sebagai Peserta. Untung saja tidak menang. Sedangkan dua yang lainnya adalah mantan rampok dan penjudi kelas berat. Mungkin karena keberuntungannya, si penjudi itu yang menang. Ketika ditanyakan kepada masyarakat, mengapa memilih penjudi, mereka berdalih masih lebih baik penjudi daripada mantan rampok atau mantan pembunuh bayaran. Kalau dipikir ternyata ada benarnya juga.

  • Sumber Dana Peserta

Dari semua peserta pemilihan Kepala Desa yang diamati, mayoritas mendapatkan dana dari pihak lain dengan cara hutang. Ada beberapa yang mendapatkan dana dari menggadaikan atau malah menjual tanah serta sawahnya. Beberapa bagian kecil mendapatkan suntikan dana penuh dari Penjudi Besar dengan harapan tanah kas Desa digarap sepenuhnya oleh mereka. Bagaimana mereka tidak mengandalkan pihak lain yang bergelimang uang, toh pendaftaran saja harus menyetor di muka sebanyak Rp. 17 Juta.

Sedangkan sisanya dilunasi seminggu sebelum pemilihan. Dengar-dengar untuk satu pemilihan membutuhkan dana sampai Rp. 140 juta, yang ditanggung sejumlah peserta. Belum lagi dana siluman untuk membeli suara yang per kepala biasanya mendapat Rp. 20 ribu. Bahkan ada yang berani membeli dengan harga Rp. 200 Ribu lebih. Hitung saja berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh para calon untuk memenangkan pemilihan? Menurut sumber dari tim kampanye yang penulis kenal, sekurang-kurangnya Rp. 200 Juta habis untuk keperluan menjaring suara saja.

  • Kampanye Para Peserta

Hampir semua peserta yang penulis temui menerapkan gaya kampanye hitam, alias saling melakukan pembelian suara atau bisa disebut dengan “bom boman” pada calon pemilih. Ada yang memanfaatkan sisi gelap masa lalunya untuk menakut-nakuti warga plus diiming-imingi sejumlah rupiah agar mau memilih calon mereka. Ada yang melakukan penghadangan terhadap team sukses calon lain agar tidak masuk dan mengebom warga yang menjadi basis calon tersebut. Dan masih banyak lagi cara-cara kotor lainnya yang sangat menjijikkan untuk disebut di sini.

  • KESIMPULAN

Demokrasi yang memiliki makna “ Dari rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat” ternyata tidak semurah nasi pecel atau pisang goreng. Banyak sekali biaya yang dikeluarkan untuk mewujudkan azas Demokrasi tersebut. Namun dari ulasan di atas, yang cukup mengusik hati penulis adalah; untuk pemilihan pemimpin di tingkat desa saja intriknya sudah seperti itu hebat, lalu bagaimana dengan pemilihan pemimpin di tingkat Kabupaten/Kota, Propinsi dan bahkan Presiden?

Adakah hubungannya antara Politikus yang kedapatan Korupsi dengan pengumpulan dana partai menjelang Pemilu 2014? Adakah hubungannya dengan gonjang-ganjing KPK dalam menuntaskan Korupsi, yang mungkin ada pejabat KPK yang mengetahui ada sesuatu yang besar dibalik kasus semacam century, hambalang, wisma atlit dan sebagainya yang mengarah kepada partai politik dalam mendulang dana menjelang Pemilu?

Ah, siapa yang tahu? Toh rakyat sekarang sudah cerdas. Sekarang memang saatnya memilih dengan hati yang jernih dan bukan dengan uang. Lalu bagaimana dengan permainan Politikus busuk itu? Biarlah itu dibawa mereka sendiri sampai membusuk di dasar neraka.

Sampai jumpa lagi dalam artikel selanjutnya..

Penulis : Pakdhe U® | Editor : Pakdhe U® | Blog Client : Windows Live Writer  ©2903-2013

“ PERANG TIDAK PERNAH MENJANJIKAN APA-APA, KECUALI DERITA TANPA BATAS DAN KEMENANGAN TANPA MEDALI”

ARTIKEL TERBARU >>

Minggu, 18 Maret 2012

Bukanlah Dalang Yang Berperan

Artikel Oleh : Pakdhe U®

Jember-IDN. Akhir-akhir ini sering muncul dalam pemberitaan di Media Massa, tentang hiruk pikuk panggung politik yang disebutkan sedang dalam pengaruh kejahatan kerah putih. Apalagi kalau bukan kasus korupsi yang membelit Partai-partai politik di negeri kita?

Berbagai pihak saling melemparkan argumen dan bahkan saling tuding tentang siapa yang harus paling bertanggung jawab atas permasalahan; Century, Wisma Atlit, Antasari dan beberapa kasus besar lainnya. Semua argumen tersebut mengarah kepada adanya suatu “grand design”, atau skenario besar yang memang mengkondisikan keadaan sedemikian rupa dengan tujuan yang tidak baik, tentunya.

Mereka sepakat menyebut ada “dalang besar” yang bermain dalam hiruk pikuk permasalahan itu semua. Tentang siapa dan bagaimana rupanya sang “dalang besar”, tidak ada satupun pihak yang benar-benar mengetahuinya dengan pasti. Mereka hanya bisa menduga-duga, dan bahkan sialnya, mereka bisa menuduh lawan politiknya yang memainkan peran sebagai “dalang besar”.

Penulis, yang notabene mengaku hanya sebagai “pencari rumput” biasa, hanya bisa mengelus dada. Mengelus dada untuk semua permasalahan besar yang dihadapi oleh bangsa ini. Hanya mampu prihatin dan tertegun melihat betapa mudahnya pemimpin-pemimpin kita bertengkar, sampai-sampai harus mengabaikan nasib rakyatnya. Kasihan rakyat yang sama sekali tidak tahu apa-apa.

Sebenarnya, dalam sebuah pertunjukan wayang, bukanlah dalang yang berperan. Bukan pula sinden, pangrawit atau bahkan wayang-wayangnya. Dalang hanya kebetulan mampu merangkai cerita dan menjalankan wayang-wayang yang ada, disesuaikan dengan jalan cerita yang diketahui oleh dalang. Sinden maupun pangrawit hanyalah pelengkap dan pemanis sebuah pertunjukan; dengan iringan musik gamelan serta lantunan merdu suara sinden, sebuah pertunjukan wayang akan terasa lebih bagus.

Meskipun begitu, sinden dan pangrawit juga harus sesuai dengan jalan cerita yang dilakonkan oleh dalang. Sebab, jika tidak sesuai dengan jalan cerita yang dirangkai oleh dalang, keseluruhan cerita wayang hanyalah menjadi dagelan tanpa makna. Bayangkan saja jika lakon yang dirangkai oleh dalang bertema peperangan Mahabharata, namun tembang tembang yang disajikan oleh sinden dan pangrawit bertema Cinta Asmaradhana? Semua penonton pasti akan tertawa dan bukan tidak mungkin jika akhirnya sang dalang harus rela di lempari batu.

Lantas, siapa sebenarnya yang paling berperan dalam sebuah pertunjukan wayang? Penulis lebih cenderung menyebutkan “Tuan Rumah” sebagai pihak yang paling berperan. Tuan rumah yang tentunya adalah pemilik hajatan, entah itu sunatan, nikahan atau apapun juga, adalah yang paling berkuasa menentukan lakon apa yang harus ditampilkan oleh dalang.

Jika tuan rumah menghendaki lakon Sinta Obong, tidaklah mungkin seorang dalang yang sudah disewanya berani menampilkan lakon selain Sinta Obong, misalnya lakon Petruk Munggah Ratu atau Dasamuka Ngamuk. Dan sebagainya. Sebab, jika permintaan tuan rumah dilanggar, resiko terbesar adalah pertunjukan tersebut tidak akan pernah dibayar oleh tuan rumah.

Kembali ke kasus di Indonesia. Siapakah yang sebenarnya menjadi tuan rumah dan sedang menggelar hajatan, untuk saat ini? Mungkinkah si tuan rumah adalah para investor-investor asing maupun lokal, yang sangat berkepentingan dengan perekonomian di Indonesia, demi keuntungan mereka sendiri tentunya.

Mungkinkah tuan rumah tersebut adalah kekuatan penguasa asing yang sangat takut dengan kekuatan tersembunyi Indonesia, sehingga sedemikian rupa selalu mengguncang kedaulatan bangsa ini dengan cara terselubung?

Mungkinkah tuan rumah yang dimaksud adalah pemimpin atau penguasa kita sendiri yang sangat berkepentingan dengan kelanggengan rezim yang sudah mereka nikmati selama ini? Siapa yang tahu? Bahkan, penulis hanya bisa menebak-nebak siapa sebenarnya tuan rumah itu. Setan hitam, mungkin?

Kalau ditanya siapa dalangnya, kemungkinan besar mereka adalah orang-orang yang bersedia dibayar lebih untuk melakukan pekerjaan kotor sesuai jalan cerita yang dikehendaki oleh tuan rumah. Dalang, memiliki akses mudah ke jaringan sosial, hukum dan politik praktis. Dia bisa merupakan politisi, teknokrat, birokrat atau praktisi hukum. Intinya, dia adalah pemilik otoritas, bisa perorangan maupun kelembagaan.

Berbicara mengenai sinden dan pangrawit, lebih tepat ditujukan kepada media massa. Bukan bermaksud merendahkan reputasi media tapi lebih menilik kepada kemampuan media untuk menyajikan sebuah pertunjukan wayang menjadi lebih atraktif dan obyektif. Tanpa adanya media yang mengulas secara tajam, sebuah kasus korupsi hanya akan menjadi konsumsi para politisi saja. Thank’s media.

Bagaimana dengan rakyat? Ya, mereka akan selamanya tetap menjadi penonton yang bijak. Walaupun Rahwana sedang murka, atau Sinta sedang membakar (obong) diri, dan Arjuna membakar Alengka, penonton tetaplah penonton. Yang akan dengan mudah bersorak ketika ada hal yang perlu disoraki. Atau tertawa jika ada hal yang perlu ditertawai. Mereka tetap dengan ringannya melenggang, meninggalkan pertunjukan jika merasa bosan atau bahkan menunggu sampai pertunjukan usai karena penasaran dengan akhir ceritanya.

Mereka tak peduli dengan sinden yang kakinya kesemutan. Atau dengan pangrawit yang tangannya kelelahan. Atau dengan dalang yang hampir kehabisan air ludah karena kebanyakan berkoar-koar. Mereka akan tetap membeli sebungkus kacang di saat lapar. Mereka akan tetap membeli secangkir minuman di saat haus. Bahkan mereka akan pulang ditengah pertunjukan di saat mereka sudah mengantuk.

Siapa Tuan Rumah? Siapa Dalang? Siapa Sinden dan Pangrawit? Temukan sendiri jawabnya! Sampai jumpa…

Sumber : Opini Pribadi.

>> Ayo bersama sama menjadikan bumi kita dalam damai <<

Penulis : Pakdhe U | Editor : Pakdhe U | Blog Client : Windows Live Writer 2011 | Copyrights © 18032012/1316 @ www.pakdheu.blogspot.com

> Artikel Terbaru.

Rabu, 07 Maret 2012

Dagelan Ala Anggota Dewan (yang katanya terhormat)

Pakdhe U®, Jember-IDN. Gedung DPR, boleh dikata ibarat sebuah panggung besar sebuah acara pertunjukan yang bisa berisi sebuah drama, simphoni musik atau bahkan juga sebuah acara dagelan. Di dalam gedung tersebut, berbagai lakon dengan bermacam-macam skenario, maupun berbagai peran telah dengan sangat sempurna dipentaskan.

Drama politik penuh dengan intrik-intrik. Drama kolosal bertema penghamburan uang rakyat. Drama tetrikal tentang pengaburan dan penghilangan jejak korupsi berjama’ah. Semuanya ada dan sangat lengkap tersajikan.

Bahkan yang terbaru adalah lakon dagelan ala Badan Anggaran DPR, yang menceritakan tentang keinginannya untuk merenovasi gedung rapat mereka dengan total biaya yang tidak masuk akal. Rp. 20 Millyar yang mereka ajukan, dengan diantaranya memasukkan kursi dengan nilai Rp. 10 juta per biji, korden dengan nilai Rp. 6 juta per meter dan segala tetek bengek lainnya yang nilainya juga tidak jauh beranjak dari angka jutaan.

Lakon Badan Anggaran Meriang meminta ruang yang mewah, adalah lakon kedua yang dipentaskan di gedung dewan setelah lakon Para Wakil Rakyat Sulit Berak karena jamban bin kakus yang ada di kantor mereka (dikatakan) tidak layak untuk ukuran Anggota Dewan (yang katanya terhormat). Dan lakon yang ke sekian puluh kalinya yang menuai hujan kritik dari para rakyat yang menjadi penontonnya.

Mereka (para anggota dewan), dikatakan terhormat bukan karena asal usul atau riwayat pendidikan mereka, melainkan karena kedudukan mereka secara kebetulan memang terhormat. Namun sangat disayangkan jika kemudian ternyata sikap, perilaku dan tabiat mereka sama sekali tidak menunjukkan gelagat yang terhormat atau bahkan pantas untuk dihormati.

Betapa tidak? Kerja mereka tidak pernah jauh dari urusan mengutak-atik angka-angka dalam lembar anggaran yang sekiranya bisa menguntungkan diri mereka sendiri. Mungkin memang ada sebuah korden senilai Rp. 6 juta per meter, tapi bukankah lebih bijak jika mencari yang jauh lebih ekonomis? Toh, dari sumber penulis ada yang mengatakan jika korden Rp. 750.000 per meter saja sudah tampak mewah. (sumber: Hamid Korden).

Lagipula, apakah hasil kerja mereka bisa ditentukan dari nilai sebuah korden per meter? Tentu tidak dong! Ayolah para wakil rakyat, lebih realistis sedikit! Rakyat di luar sana sangat banyak yang masih kekurangan, janganlah kau bersikap masa bodoh (atau kau memang bodoh) membodohi rakyat dengan segala tipu dayamu.

Ingat bung! Kalian duduk di senayan karena dipilih oleh kami, para rakyat. Kalian juga bisa keluar terdepak dari senayan oleh kami, itupun jika kami berniat melakukannya.

Bagaimana dengan sebuah kursi yang (katanya) seharga Rp. 10 juta per buah? Apa kalian dipastikan tidak bisa bekerja dengan baik jika pantat-pantat kalian tidak menyentuh kursi sepuluh juta? Atau,  jangan-jangan kalian memang sengaja bermewah-mewah diri untuk urusan kursi, agar kalian bisa (lebih) nyenyak tidurnya selama bekerja? Bukankah selama ini kalian selalu tertangkap kamera sedang tertidur di saat bekerja?

Yang lebih menggelikan lagi adalah, ketika kemudian ada revisi anggaran dari semula Rp. 20,2 Milyar, diturunkan hingga menjadi hanya Rp. 6 Milyar saja. Meskipun begitu, harga untuk sebuah kursi masih berada di kisaran Rp. 1 s/d 2 juta saja. Untuk ukuran harga sebuah kursi, itu masih sangat terlalu mewah, dan bisa menjadikan para anggota dewan {yang katanya terhormat} tetap saja tertidur selama bekerja.

Oya, jika selama ini mereka juga mengeluhkan lampu ruangan yang kurang terang, itu sama sekali tidak masuk akal! Sekarang bagaimana mereka bisa mengatakan sebuah lampu itu terang atau tidak, jika mereka melihatnya dengan tertidur? (hehehe). Penulis menganggap, dengan lampu lokal seharga tak kurang dari Rp. 50.000,- saja sudah sangat terang kok?!

Yaah, semua itu hanyalah dagelan politik ala anggota dewan {yang katanya terhormat}, kita hanya bisa tertawa sambil mengelus dada dengan mengusung harapan agar untuk selanjutnya tidak ada lagi dagelan-dagelan serupa dari senayan.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya…

Sumber : Diolah dari berbagai sumber.

~~ Kemewahan dan semua fasilitas yang melimpah, tidak akan menjamin hasil kerja seseorang. Karena yang menentukan baik dan tidaknya sebuah hasil kerja adalah kemampuan kita mengemban amanah tanggung jawab untuk pekerjaan tersebut.~~ (Pakdhe U)

** Saatnya bagi kita semua untuk menghentikan perang dengan segera **

Penulis : Pakdhe U | Editor : Pakdhe U | Blog Client : Windows Live Writer 2011 | Copyrights © 070312/1352 @ www.pakdheu.blogspot.com

Senin, 27 Februari 2012

BBM = Benar Benar Menyusahkan

Oleh : Pakdhe U®

Jember-IDN. Akhir-akhir ini begitu gencar diberitakan di berbagai media, tentang rencana kenaikan harga BBM. Tidak hanya diberitakan tentang rencana kenaikannya saja, namun juga dampaknya terhadap kehidupan sosial masyarakat, bahkan perdebatan tentang perlu tidaknya BBM dinaikkan juga turut diberitakan.

Menyambung artikel penulis tanggal 25 Februari, kali ini penulis kemabali menguraikan perihal rencana kenaikan BBM tersebut dari sisi yang berbeda. Menurut penulis BBM bukan lagi berarti Bahan Bakar Minyak, melainkan lebih tepat disebut Benar Benar Menyusahkan.

Bagaimana tidak? Sekarang BBM seolah sudah bergeser menjadi komoditas politik. Semua partai berlomba-lomba mengajukan usul, tanggapan dan rencana terkait kenaikan harga BBM. Tapi, hasil akhirnya tetap saja menyusahkan rakyat kecil.

Jauh sebelum harga BBM ditetapkan naik, pemerintah sudah mewacanakan rencana kenaikan tersebut ke media massa. Akibatnya, banyak sekali terjadi praktik penimbunan BBM oleh masyarakat yang tidak bertanggung jawab. Bahkan penimbunan tersebut juga dilakukan oleh pengelola SPBU yang nakal.

Sehingga pada akhirnya pemerintah mengeluarkan larangan pembelian BBM dengan menggunakan jerigen. Bahkan untuk melaksanakan aturan tersebut, di beberapa SPBU ditempatkan beberapa personil polisi yang tentu sudah diberi mandat untuk menindak tegas pembeli BBM menggunakan Jerigen.

Tapi yang namanya maling tentu tidak kurang akal. Mereka para orang-orang kaya yang masih merasa kurang dan ingin menangguk untung lebih, tentu memanfaatkan kendaraan yang mereka miliki untuk menimbun BBM. Misalnya, Minibus, Truk, atau kendaran sejenis sedan. Tidak perlu mengakali atau memodifikasi tangki kendaraan mereka seperti yang terjadi di Bogor, mereka cukup pulang balik ke SPBU sebanyak tiga sampai empat kali dalam sehari.

Sangat tidak adil! Benar benar tidak adil memang. Pembeli menggunakan jerigen 20 liter dilarang, namun mereka yang punya kendaraan dengan tangki sekitar 50 liter dibiarkan membeli sampai lebih dari tiga kali, yang jika ditotal bisa mengumpulkan sekitar 150 sampai 200 liter BBM. Lalu apa tindakan yang diambil untuk mereka? Tidak ada bung! Mereka tidak ditindak sama sekali, padahal mereka jelas-jelas bertindak curang.

Mesin Traktor

Padahal, diantara mereka yang membeli menggunakan jerigen adalah para petani, nelayan, pengusaha jasa Traktor dan beberapa ada pula pengusaha penggilingan padi. Mereka bisa dikatakan sebagai UKM yang seharusnya dilindungi oleh pemerintah. Mereka-mereka ini yang justru mampu menggerakan roda perekonomian sedemikan pesatnya. Mereka adalah sektor informal yang secara real mampu memberikan dampak langsung atas laju pertumbuhuan ekonomi. Lalu, mengapa mereka dilarang membeli BBM menggunakan jerigen?

Apakah pemerintah memikirkan aturan tersebut menggunakan dengkul (jawa = lutut, red) atau sama sekali tidak dipikirkan? Jika mereka dilarang menggunakan jerigen untuk belanja modal BBM untuk usaha penopang ekonomi mereka, lalu bagaimana caranya agar mereka mendapatkan BBM? Apakah mereka harus membawa traktor-traktor mereka ke SPBU? Bagaimana mereka membawa mesin penggilingan padi milik mereka ke SPBU? Bagaimana jadinya jika sebuah perahu dibawa ke SPBU? Nampak bodoh sekali kan?

Penulis adalah salah satu pemilik traktor yang hanya dipergunakan untuk sawah pribadi dan adakalanya juga untuk disewakan jasanya. Dalam satu musim, sekitar 1 bulan kerja untuk sebuah traktor membutuhkan solar rata-rata 170 liter. Sehingga kalau dihitung sekitar 5 sampai 8 liter per hari, tergantung jarak dan beban kerja di sawah.

Adakalanya traktor-traktor tersebut tidak pulang dari sawah sampai semua pekerjaan selesai dan bagaimana jadinya jika ada ketentuan larangan membeli BBM menggunakan Jerigen? Bagaimana dengan para pengusaha jasa traktor yang memiliki lebih dari satu traktor? Disini sangat jelas kalau pemerintah sama sekali tidak berpihak pada rakyat.

Diakui atau tidak, menurut penulis, saat ini pemerintah lebih mengutamakan para pemodal besar alias para kapitalis dan bukan mengutamakan rakyat kecil. Kalau ada indikasi BBM bersubsidi akan dihilangkan, ada kemungkinan ini adalah hasil dari hasutan pengusaha minyak besar kepada pemerintah dengan imbalan yang kita tidak tahu, agar mereka tidak kalah bersaing jika berjualan minyak (mendirikan SPBU) di Indonesia.

Apapun itu, kenaikan harga BBM akan Benar Benar Menyusahkan rakyat. Cerdas atau tidak cerdas keputusan pemerintah menaikkan harga BBM, tetap saja tindakan tersebut merugikan rakyat. Masyarakat tidak memerlukan BLT atau semacamnya, namun lebih memerlukan jaminan keberlangsungan ekonomi yang lebih baik. Dengan harga BBM terjangkau, maka otomatis harga kebutuhan hidup yang lain juga terjangkau. Pada akhirnya penghasilan yang mereka peroleh setiap hari akan mempunyai nilai.

Ah, seandainya Israel dan Amerika tidak gatal menyerang Iran. Seandainya Israel dan Amerika tidak gatal mengusik ketenangan Timur Tengah. Seandainya Israel dan Amerika dan juga negara-negara kapitalis besar lainnya tidak congkak dan arogan demi menguasai ladang minyak dunia; tentu harga minyak dunia tidak akan meroket begitu tingginya dan akhirnya menyusahkan rakyat yang tidak tahu apa-apa.

Seandainya PBB tidak lembek. Seandainya PBB punya taring. Seandainya PBB menghapus adanya hak veto; tentu perdamaian akan tercapai. Minyak akan dianggap sebagai warisan berharga yang harus dilindungi bersama dan bukan menjadi barang rebutan perseorangan. Akibat konflik perebutan ladang minyak, tak urung jutaan barrel minyak mentah terbuang percuma.

Ah, sudahlah. Penulis hanyalah seorang “tukang rumput” biasa yang suaranya tidak akan pernah bisa mengusir setan dari lubuk hati penguasa-penguasa rakus dunia dan kapitalis kapitalis jahanam.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya

Sumber : Metro TV, RCTI, Jawa Pos

Ketika setan sudah menguasai hati kita, apa yang ditunjukkan di hadapan mata kita semuanya adalah musuh. Akhirnya hanya bencana yang bisa kita hadiahkan untuk anak cucu. Namun, jika malaikat yang menguasai hati kita, perang tidak akan pernah mengisi lembaran sejarah dunia dan pada akhirnya semua keindahan peradaban yang kita hadiahkan untuk anak cucu”. (Pakdhe U)

^^ AYO HENTIKAN PERANG DI MUKA BUMI! ^^

Penulis : Pakdhe U | Editor : Pakdhe U | Blog Client : Windows Live Writer 2011 | Copyrights © 2012/02.27-0556 @ www.pakdheu.blogspot.com

Artikel Terbaru

Sabtu, 25 Februari 2012

BBM Naik, Salah Siapa?

Artikel Oleh : Pakdhe U®.

Jember-IDN. Membaca Jawa Pos edisi 24 Februari 2012, dengan judul Headline “BBM Diusulkan Naik Rp. 2.000”, membuat penulis sedikit mengernyitkan dahi. Untung saja dahi penulis tidak termasuk kategori lebar, sehingga meskipun mengernyit sampai sehebat-hebatnya, tidak bakalan kelihatan.

Mengapa mengernyitkan dahi? Penulis merasa menaikkan harga BBM, berapapun nilainya, tetap akan berimbas pada rakyat kecil. Meskipun disebutkan inflasi akan berada pada kisaran yang aman, tetap saja rakyat kecil yang akan menderita. Selama ini, dengan harga BBM yang belum dinaikkan saja, rakyat merasakan sangat berat dalam menyambung hidup.

Penulis jadi berandai-andai, seandainya ketenangan wilayah Timur Tengah tidak pernah diusik oleh tangan-tangan rakus yang hanya ingin menangguk untung semata, tentu harga minyak tidak perlu dinaikkan. Kita patut mencurigai, konflik tanpa henti di wilayah Timur Tengah dan beberapa wilayah kaya minyak, memang sengaja diciptakan oleh pihak-pihak yang tidak ingin harga minyak dunia turun.

Dengan adanya konflik yang berkepanjangan, disusul dengan embargo ekonomi yang didasarkan pada alasan yang samar, otomatis menjadikan harga minyak dunia meroket tinggi. Siapa yang kemudian diuntungkan? Tentu mereka-mereka yang memiliki ladang-ladang minyak tersebut.

Kembali ke masalah BBM di Indonesia. Dalam artikel di Jawa Pos tersebut, juga diungkapkan permintaan maaf Pemerintah melalui Menteri ESDM (Energi Dan Sumber Daya Mineral), sembari mengumbar janji akan memikirkan bantuan yang tepat bagi rakyat miskin yang terdampak kenaikan harga BBM tersebut.

Bantuan sebagai bentuk kompensasi kenaikan harga BBM sepertinya tidak bisa diharapkan banyak, pasalnya dalam pengalaman terdahulu, banyak sekali kasus penyelewengan, penggelapan dan pemotongan dana oleh pihak penyalur, dalam hal ini pemerintahan desa. Ujung-ujungnya tetap saja menyengsarakan rakyat.

Belum lagi penetapan kategori “miskin” oleh pemerintah yang tidak jelas, dan bisa memicu ketidakadilan pembagian dana kompensasi tersebut. Menurut pemerintah, kategori miskin bisa ditentukan dari bentuk fisik bangunan rumahnya. Jika sebuah keluarga telah memiliki rumah dengan lantai keramik, maka mereka tidak termasuk kategori miskin.

Padahal, sangat banyak sekali keluarga yang memiliki rumah dengan lantai keramik tapi tidak mempunyai penghasilan tetap. Mereka adalah para korban PHK yang dulunya pernah berjaya, namun saat ini sudah tidak memiliki pekerjaan yang layak. Bahkan, di tempat tinggal penulis ada banyak sekali buruh tani, buruh serabutan dan kuli angkut, yang penghasilannya tidak tetap perharinya namun memiliki rumah berlantai keramik. Bagaimana mengatasi yang seperti ini?

Ah, jadi pusing memikirkan itu semua. Semoga saja Embargo ekonomi dan permainan kotor tangan-tangan rakus penguasa ladang minyak bisa segera berakhir. Sehingga BBM tidak perlu naik.

Ketika mendapatkan keuntungan dari keringat darah orang lain, janganlah pernah berharap keuntungan itu membawamu menuju kemakmuran “. (Pakdhe U)

Sumber : Jawa Pos 24 Februari 2012, Opini Pribadi.

^^ STOP Kekerasan dan perang yang tidak beradab, SEKARANG JUGA ^^

Penulis : Pakdhe U | Editor : Pakdhe U | Copyrights © 25022012/1519 @ www.pakdheu.blogspot.com| Blog Client : Windows Live Writer 2011

> Artikel Terbaru.

Minggu, 01 Januari 2012

Menyapu Bersih Korupsi

Pakdhe U, Jember-Indonesia. Korupsi, adalah momok, penyakit dan terror yang menakutkan bagi kita semua. Hampir semua negara, di belahan dunia manapun, sangat kewalahan dengan tindakan-tindakan korupsi. Oleh karenanya, untuk kesekian kalinya, penulis kembali menyajikan artikel tentang korupsi, dari sudut pandang yang berbeda.

Korupsi, mau tidak mau memang harus disapu bersih! Memang harus diberantas sampai tuntas! Namun, bagaimana caranya? Jika terlalu banyak kotoran yang berserak di halaman rumah kita, bagaimana mungkin bisa dibersihkan oleh sebuah sapu yang lapuk? Tentu membutuhkan lebih dari sebuah sapu tegar dan operator-operator yang kuat, untuk bisa membersihkan halaman rumah kita.

Sapu, dalam artikel ini, penulis identikkan dengan tatanan hukum dan perundang-undangan. Sedangkan operator, penulis identikkan sebagai aparat pelaksana hukum di lapangan dan siapa saja yang memiliki kewajiban untuk bertanggungjawab atas terselenggaranya hukum dengan benar.

Sapu dan operator sapu, adalah sebagian kecil dari sebuah mekanisme sistem pemberantasan korupsi. Bagian terpenting yang bisa menjadikan pemberantasan korupsi bisa berjalan adalah sistem pengawasan dan pendampingan. Karena, tanpa adanya pengawasan atau pendampingan, mustahil korupsi bisa diberantas. Kecuali, jika semua sistem tersebut sudah bobrok dan rusak.

Dalam upaya pemberantasan korupsi, yang sangat perlu untuk kita cermati adalah; bagaimana korupsi bisa terjadi dan kapan sebenarnya korupsi itu dimulai?

Menurut penulis, korupsi bisa terjadi disebabkan oleh beberapa faktor berikut:

  1. Sifat serakah manusia, yang senantiasa ingin mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.
  2. Rendahnya nilai kejujuran dalam setiap individu, yang ironisnya, sudah terjadi sejak masa kanak-kanak.
  3. Sikap menyepelekan sesuatu yang bukan menjadi hak miliknya, namun sebenarnya juga menjadi tanggungjawabnya. Atau istilah lainnya adalah, tidak mempunyai sikap “Turut memiliki bagian.”
  4. Adanya celah atau peluang sebuah sistem manajemen keuangan yang bisa dipermainkan oleh setiap pelaksananya.

Dari semenjak Nabi Adam, sifat serakah merupakan sifat dasar setiap manusia. Namun, bukan berarti keserakahan tidak bisa dikendalikan. Dengan bekal pendidikan Agama yang cukup, pengarahan dan pendampingan orang tua, sejak masa kanak-kanak dan pendidikan budi pekerti yang baik, niscaya keserakahan bisa dikendalikan hingga titik paling wajar.

Seringkali kita temui, dalam sebuah kegiatan niaga maupun kegiatan yang lainnya, adanya rekayasa laporan keuangan justru didukung oleh orang-orang di sekitarnya. Misalnya, seorang sopir niaga hanya membelanjakan 75% dari uang bahan bakar, namun meminta nota 100% pada petugas SPBU. Ironisnya, petugas SPBU tersebut justru membiarkan tindakan tidak jujur sopir niaga tadi.

Kebiasaan anak-anak yang meminta uang kembalian, atau mengambilnya langsung tanpa meminta, adalah merupakan salah satu benih penyebab ketidak jujuran dalam bekerja, sebagaimana yang dilakukan oleh sopir niaga pada ilustrasi penulis, di atas.

Pun demikian, ketika ditanyakan alasan mereka melakukan tindakan penyelewengan nota tersebut, mereka selalu berdalih, “Toh, ini bukan uang saya. Kalaupun rugi, yang rugi kan bos?” Sungguh menyedihkan! Sikap kurang peduli dan kurang merasa turut memiliki, seperti inilah yang sebenarnya menjadi pangkal dari permulaan sebuah tindakan korupsi.

Padahal, jika lebih bijaksana dan menggunakan akal sehat, tindakan mereka yang merugikan tersebut dapat berimbas kepada pendapatan ekonomi mereka sendiri. Bagaimana tidak? Jika Bos-bos mereka merugi, pada akhirnya bangkrut karena sudah tidak mampu lagi menjalankan usaha, maka para sopir niaga (pekerjanya) akan mendapatkan PHK. Ujung-ujungnya adalah tidak memiliki penghasilan.

Membicarakan celah atau peluang kelemahan sebuah sistem manajemen ekonomi adalah juga membicarakan tentang keahlian para pakar ekonomi. Penulis hanyalah “Tukang Rumput” biasa, maka dalam artikel kali ini penulis tidak ingin mengupasnya terlalu jauh.

Satu hal yang pasti, sebuah sistem manajemen ekonomi tidak akan memiliki kelemahan apapun, selama dalam penyusunan rancangan program, benar-benar dipikirkan dengan matang. Justru yang memberikan celah tersebut adalah individu-individu yang menjalankan sistem tersebut.

Kesimpulan penulis dalam upaya bersama menyapu bersih korupsi adalah sebagai berikut :

  1. Tanamkan nilai-nilai kejujuran semenjak dini, kepada anak-anak kita.
  2. Tanamkan nilai-nilai moral dan perasaan turut memiliki, dengan harapan tumbuh keinginan untuk menjaga dan mengembangkan dengan benar.
  3. Pikirkan sebuah bentuk hukuman yang pantas dan sekiranya memberi pengaruh kuat bagi orang-orang lain untuk tidak turut serta berbuat korupsi atau curang. Hukuman tersebut bisa berupa Hukuman Mati, Penelanjangan di Depan Umum, Pengucilan atau Pengasingan. Hukuman terberat harus diberikan jika pelaku korupsi merupakan aparat hukum atau pejabat yang terkait hukum.
  4. Ganti semua sapu yang lapuk dengan sapu yang baru dan ganti pula operator sapu tersebut yang tidak memiliki kapabilitas memadai.
  5. Terakhir; Jangan pernah memberikan kesempatan kepada koruptor atau yang diindikasikan korupsi untuk menduduki jabatan politik, hukum dan pemerintahan. Masukkan mereka dalam Black List abadi.

Demikian ulasan penulis dalam artikel pada posting edisi kali ini, semoga bermanfaat bagi anda semua dan sampai jumpa pada artikel selanjutnya..

**Hentikan Perang, saat ini juga! Stop War, right now!**

Sumber :

  • Pengalaman Pribadi
  • Gagasan Pribadi

Penulis : Pakdhe U | Editor : Pakdhe U | Copyright@161211/1957 |

Blog Client : Windows Live Writer 2011

“ Kehilangan terbesar bagi manusia adalah, ketika kita kehilangan jati diri, untuk bertindak benar “ (Pakdhe U)

Sabtu, 17 Desember 2011

Janji Manis Buaya

Pakdhe U, Jember-Indonesia. Pernah mendengar atau melihat, baik secara langsung maupun melalui media massa, televisi maupun cetak, tentang seseorang atau sekelompok politisi, menandatangani janji politik? Dalam perjanjian yang mereka tandatangani di atas materai tersebut tertulis kesediaan mereka untuk; mundur dari jabatan, dimiskinkan, diasingkan, dikucilkan bahkan ada yang dengan tegas menyatakan siap dihukum mati, jika mereka "terbukti" terlibat kasus korupsi.

Dengan kata lain, mereka sudah memberikan janji kesediaan mereka untuk diperlakukan sebagaimana tertulis dalam kontrak politik mereka. Namun semua itu dengan catatan, jika dalam sebuah kasus korupsi, mereka "terbukti" terlibat. Terbukti, dengan tanda kutip, memiliki makna yang teramat sangat luas. Bahkan kalau boleh dikatakan oleh penulis, kata terbukti adalah peluang atau celah sempit untuk mengelak dari semua tuduhan korupsi; kalau memang ada.

Sejak jaman Romawi kuno, sampai sekarang, politik itu abu-abu, untuk lebih menghindari kata "kotor", dan siapapun yang terlibat dalam politik tersebut sudah dapat dipastikan akan terkena imbas abu-abu. Penulis tidak menafikkan, bahwa masih ada juga diantara mereka para pelaku politik yang bersih dan santun. Namun kebanyakan dari mereka, justru diasingkan, disingkirkan bahkan nomor duakan dalam setiap kegiatan politik.

Mungkin, mereka yang sudah meneken janji tersebut, memang benar-benar tulus untuk berjanji dari lubuk hatinya yang terdalam. Namun bukan berarti kita harus begitu saja menerima janji tersebut dan menganggap semua permasalahan selesai. Tidak! Kita sebagai rakyat yang diwakili oleh mereka, yang sangat menggantungkan nasib kepada mereka para politisi, juga harus jeli melihat janji tersebut. Jangan-jangan itu hanya janji manis buaya!?

Jangan-jangan {ini hanya prasangka}, mereka berani menjanjikan hal tersebut karena sudah mengetahui sebuah cara untuk menghindar dari kejaran hukum, jika ternyata mereka memang benar-benar terlibat korupsi? Katakanlah, mereka mempunyai cara agar kejahatan mereka "tidak terbukti", atau "tidak cukup bukti". Caranya bagaimana? Mereka bukan orang bodoh yang dengan mudahnya melakukan segala bentuk korupsi seorang diri. Untuk menghilangkan jejak, bisa saja mereka "pinjam" tangan orang lain yang bisa dan mau dipinjam. Contoh kasus; Gayus Tambunan, yang diperkirakan hanyalah alat atau tangan pinjaman dari "aktor korupsi" yang sebenarnya. Bisa saja "aktor" tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak tokoh yang pernah menyediakan diri untuk dihukum dan sebagainya, jika terbukti korupsi.

Dengan caranya yang licik, mereka para aktor tersebut juga memanjakan bang Gayus selama di penjara. Fasilitas mewah, liburan ke Bali bahkan layanan "kebutuhan khusus" juga disediakan. Mungkin {prasangka saja}, semua itu diberikan agar bang Gayus tidak "menyanyi" tentang "lagu lama" sang aktor. Atau juga, layanan liburan tersebut ditujukan untuk memberikan konseling atau briefing tentang apa saja yang harus dijawabkan jika ditanya oleh penyidik. Siapa yang tahu?

Jadi, saat penulis melihat tayangan televisi atau membaca koran tentang janji muluk, kontrak politik dan apalah itu namanya, penulis hanya bisa tertawa dalam hati. Sampai kapanpun, walau bersumpah janji hingga mulutnya berbuih, yang namanya hati busuk tetaplah hati busuk. Niat untuk korupsi akan tetap ada, selama hati busuk masih dipelihara! Mungkin mereka tidak berani jika diajak untuk "sumpah pocong?", karena keberanian mereka hanyalah sebatas janji manis buaya.

Menurut penulis yang hanya "tukang rumput" ini, korupsi di Indonesia sudah teramat sangat kronis, sehingga akan sangat sulit untuk membuktikan ada atau tidak adanya korupsi, apalagi untuk memenjarakan pelaku korupsi? Hal ini disebabkan; hampir semua lini birokrasi, hukum dan masyarakat, sudah fasih berkorupsi. Meskipun ada juga sebagian {kecil} yang tidak demikian. Mau urus ini, bayar sekian; mau daftarkan itu, bayar sekian; mau ini, mau itu, semuanya ada tarif silumannya. Bukannya itu merupakan tanda korupsi?

Semoga mereka yang membaca artikel ini tidak ada yang tersinggung, soalnya kalau ada yang merasa tersinggung, penulis berani jamin kalau mereka juga sama dengan "buaya". Sekarang mengapa harus tersinggung jika memang anda tidak pernah melakukan hal yang dimaksud dalam tulisan artikel ini? Heheh..

Sekian saja dan sampai jumpa pada artikel selanjutnya..

**Hentikan perang, sekarang juga! Stop War, right now!**

Penulis : Pakdhe U | Editor : Pakdhe U | Sumber : Gagasan Pribadi | Blog Client : MS Word 2007 | Copyright@121211/1613

Republik Abu-abu (The Repubic of Grey)

Pakdhe U, Jember-Indonesia. Abu-abu merupakan sebuah warna tengah-tengah. Tidak berwarna hitam, juga tidak berwarna putih. Bagi sebagian kalangan, warna abu-abu digunakan sebagai presentasi terhadap "sesuatu" yang tidak jelas. Tidak jelas, dalam hal ini sama halnya dengan "samar","meragukan", bahkan lebih cenderung ke arah "gelap."

Dalam sebuah diskusi, sikap abu-abu bisa disamakan dengan sikap "tidak tegas", "tidak konsisten", atau "mengalir menuju arus yang kuat." Meskipun masih rancu, antara pengertian "abstain" dengan "follow to the strongest", dalam konteks istilah abu-abu. Namun, sepanjang pemahaman penulis, yang cuma "tukang rumput", sikap abu-abu sangat jelas menunjukkan "ketidakberesan."

Penegakan hukum tidak akan berjalan sesuai dengan koridornya, jika para aparat-aparat pelaksana di lapangan mempergunakan dalil abu-abu dalam menyelesaikan setiap permasalahan hukum. Undang-undang, yang untuk membuatnya saja membutuhkan pemikiran yang brillian, bisa dengan mudah dipelintir demi kepentingan pihak-pihak tertentu. Hukum lantas bisa diperjualbelikan dengan mudah, dalam konsep dalil abu-abu.

Kenyataan di lapangan yang membuktikan bahwa penegakan hukum masih bersikap abu-abu, adalah terjadinya diskriminasi penerapan pasal perundang-undangan dalam sebuah kasus yang sama, namun background pelakunya berbeda. Contohnya, kasus pengambilan beberapa buah coklat oleh seorang nenek tua yang miskin, sebagaimana terjadi beberapa waktu lalu, yang dikenakan pasal pencurian dengan vonis hukuman hampir satu tahun (kalau tidak salah ingat).

Sedangkan kasus korupsi, yang notabene juga merupakan tindakan pencurian, dalam hal ini adalah uang rakyat, oleh para pejabat yang kaya raya, tidak jelas dikenakan pasal apa dan ironisnya, kebanyakan vonisnya bebas. Kalaupun ada yang sempat dipenjara, perlakuan di rutanpun tidak sama. Ayin, dengan kamar mewahnya. Gayus, dengan fasilitas liburan dan layanan kebutuhan khusus. Belum lagi, koruptor-koruptor lain yang tidak (atau mungkin belum) sempat terendus masyarakat.

Dalam dunia pendidikan, sikap abu-abu juga berpotensi menjadi mesin perusak utama pilar pendidikan nasional. Undang-undang pendidikan sudah jelas mengatur tentang wajib belajar sembilan tahun (yang sebentar lagi menjadi 12 tahun), dengan pendidikan gratis. Namun kenyataan di lapangan sungguh jauh berbeda. Beberapa pungutan yang nilai dan peruntukannya terkadang tidak jelas, masih menghiasi pelaksanaan pendidikan di lapangan. Mungkin tidak semuanya, namun itu bukan berarti tidak ada sama sekali?!

Penulis yakin, jika dalam waktu dekat, setidaknya sepuluh atau bahkan lima tahun ke depan, sikap abu-abu tidak dibersihkan dari sistem ketatanegaraan bangsa kita, nasib bangsa kita yang besar akan tenggelam dan bahkan punah. Indonesia akan berubah menjadi Republik Abu-abu, bahkan juga bisa berubah menjadi sebuah situs mati. Tegakkan hukum seadil-adilnya! Laksanakan amanat undang-undang dengan benar dan tanpa pandang bulu! Gilas semua pelaku korupsi, baik yang besar maupun yang kecil. Gilas sampai ke akar-akarnya, biar tidak tumbuh berkembang lagi.

Sebuah bangsa tidak akan menjadi besar jika didirikan di atas pondasi hukum yang rapuh! Katakan yang merah adalah merah, dan yang putih adalah putih, karena bendera kita tidak ada warna abu-abunya! Sekian selayang pandang dari penulis yang juga "tukang rumput" ini, semoga bermanfaat adanya. Dan sampai jumpa kembali pada artikel selanjutnya, semoga tidak bosan dengan ulasan-ulasan Pakdhe U...

>>Hentikan Perang, sekarang juga! Stop War, right now!>>

Penulis: Pakdhe U | Editor : Pakdhe U | Sumber : Gagasan Pribadi | Blog Client : MS Word 2007 | Copyright@121211/1830.

Minggu, 11 Desember 2011

Mobil Mewah vs Mobil Murah

**HENTIKAN PERANG SEKARANG JUGA! STOP WAR RIGHT NOW!**

Pakdhe U, Jember-Indonesia. Melihat tayangan televisi kita akhir-akhir ini, khususnya tentang para selebriti dan politisi, sungguh bagaikan melihat sebuah ironi yang menyakitkan. Melihat mobil-mobil mereka yang nampak, dan memang benar-benar mewah, menjadikan hati sedikit terkoyak. Sama halnya pada saat melihat di jalan raya, di depan rumah kita. Yang namanya mobil butut ternyata dapat dihitung dengan jari.

Jika berpedoman dari kenyataan di lapangan seperti itu, bangsa kita bisa dikatakan sudah "makmur" dan kaya. Tapi coba intip di bawah kolong jembatan di kota-kota besar seperti, Surabaya, Jakarta, Malang dan kota yang lainnya, bagaimana dengan mereka? Bagaimana pula dengan gubug-gubuk kayu di sepanjang aliran sungai, sepanjang rel kereta dan di daerah pinggiran kota? Sudah kayakah bangsa kita dengan gambaran seperti itu? Sudah makmurkah kita? Belum! Kita masih belum makmur!

Memang, di jalanan berseliweran mobil mewah. Para artis kita juga bermobil mewah. Bahkan para wakil-wakil kita di DPR juga sudah mencicipi mobil mewah. Tapi itu hanya segelintir gambaran semu tentang kemakmuran kita. Itu hanya silluette yang menjebak kita untuk selalu beranggapan bahwa kita sudah makmur, padahal kita belum makmur.

Jauh di pedalaman daerah. Masih banyak keluarga-keluarga yang masih harus bersusah payah untuk mendapatkan makanan. Masih banyak pula yang harus berjuang lebih keras untuk bisa mendapatkan pendidikan. Bagaimana mungkin bangsa kita disebut makmur?? Andaikan semut bisa bicara dengan bahasa kita, mereka pasti akan mentertawai kita.

Bila dipikir dengan lebih arif, kita bisa menjadikan bangsa kita yang besar ini jauh lebih makmur. Bahkan bisa menjadi pusat dari kejayaan bangsa-bangsa di dunia. Caranya? Hentikan memikirkan diri sendiri atau golongan. Hentikan pemborosan yang menyakitkan. Hentikan segala macam gengsi dan gaya hidup mewah.

Dengan lebih memikirkan nasib dan hajat hidup orang banyak, dan bukan segelintir kelompok atau golongan, kita akan menumbuhkan semangat kebersamaan dan persatuan. Kita semua tahu, semangat kebersamaan ini sangat penting untuk membangun pondasi bangsa. Dengan pondasi bangsa kuat, maka secara perlahan kita bisa mengangkat bangsa kita menuju langit kemakmuran, dengan kaki dan tenaga kita sendiri.

Pembelanjaan uang negara untuk pengadaan mobil dinas yang kelewat mewah, sama halnya dengan menggorok leher anak-anak bangsa dengan pisau yang tumpul. Sangat menyakitkan! Penulis harap, para wakil-wakil "kita" yang terpilih di DPR, secara tidak sengaja menemukan artikel ini, segera tersadar dari tidur lelapnya dan kembali bekerja untuk kita-kita yang mereka wakili. Jujur saja, para yang terhormat tidak memerlukan mobil dinas yang mewah. Kita juga tidak inginkan mereka bermewah-mewah dengan mobil dinasnya. Yang kita inginkan, mereka bekerja dengan benar demi kita, bukan demi golongan atau partai mereka. Jika mereka bekerja dengan benar, otomatis program-program untuk meningkatkan kemakmuran bangsa kita akan secara seiring terlaksana.

Gengsi dan gaya hidup mewah sebagaimana yang ditunjukkan oleh para pesohor, artis dan selebritis kita, tak ubahnya menempatkan saudara-saudara kita kaum papa, kaum marjinal dan penghuni kolong jembatan di atas bara api yang panas membara. Hanya karena gengsi dan gaya hidup mewah, mereka seolah lupa bahwa di sekitar mereka ada tangan-tangan ringkih yang sangat mengharap sentuhan kasih. Di sekitar mereka ada mata-mata penuh kecemburuan yang siap meledak dan menghancurkan mereka pada saatnya tersulut. Ingat peristiwa 98?

Bukannya kita melarang mereka bergelimang harta, karena memang itu sudah menjadi hak mereka. Namun janganlah gelimang harta tersebut kemudian menutup mata hati untuk melihat saudara kita. Ingat, hidup hanya sekali. Pada akhirnya kita semua akan mati dan tidak ada satupun harta yang akan kita bawa ke liang lahat, kecuali amal ibadah kita. Dengan meninggalkan gengsi dan gaya hidup mewah, secara tidak langsung memberi kesempatan kepada anak bangsa untuk bangkit dari keterpurukan dan menjadikan bangsa kita lebih makmur.

Baiklah, pertanyaan untuk saudara-saudaraku yang beruntung. Jika anda menebus sebuah mobil mewah seharga delapan buah mobil murah, apa yang anda rasakan? Tentu wah, bukan? Tapi, bagaimana rasanya jika dibandingkan dengan naik mobil murah? Dengan, sebut saja, Alphard, kita tetap berhenti jika bertemu macet, lampu merah, perlintasan kereta api dan jalan rusak, sebagaimana jika kita menggunakan, misalnya, Innova. Atau bandingkan saja dengan GrandMax, sama saja bukan?

Alphard hanya menang gengsi dan mewah. Saat bannya kena paku, toh sama-sama ke tukang tambal ban. Intinya, jika kita bisa menjalani hidup dengan lebih sederhana, mengapa kita harus membuang banyak uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu?

Jadi, mobil mewah vs mobil murah? Tidak kedua-duanya, selama para wakil kita di DPR belum bekerja untuk kita. Selama para artis kita hanya pamer kekayaan tanpa peduli dengan kita. Karena itu tandanya kita memang masih belum makmur! Kalau kemakmuran sudah merata di negeri kita tercinta ini, silahkan mau pilih mobil mewah atau mobil murah, toh semuanya sama saja.

**It's time to say; Stop the war, right now! With or without any reasons. Keep your soul, peace and make our world joy!**

Penulis : Pakdhe U | Editor : Pakdhe U | Sumber : Opini Pribadi | Blog Client : MS Word 2007 | Copyright@2011 |