Ucapan Selamat Datang

SELAMAT MENYIMAK SETIAP ULASAN YANG KAMI SAJIKAN
Tampilkan postingan dengan label Kontroversial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontroversial. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juni 2015

SARJANA PALSU SALAH SIAPA?

By: Pakdhe U ®

Jember. Sungguh miris jika mengingat berita yang sering muncul di tv belakangan ini. Kekerasan, penipuan, dan beragam kejahatan seolah saling mengejar rating tertinggi. Dan yang paling menyesakkan dada adalah berita adanya ijazah palsu. Yang artinya pasti ada juga sarjana palsu.

Ada sebuah lembaga pendidikan setigkat doktoral yang ruang kuliahnya di sebuah ruko (rumah toko) yang sempit. Ada juga sebuah lembaga pendidikan yang hanya berisi beberapa gelintir mahasiswa tanpa disertai dosen maupun staff kampus lainnya. Sungguh sangat keterlaluan, demi mengejar untung berlipat ganda,oknum-oknum yang semestinya turut berusaha keras memajukan pendidikan di Indonesia, malah justru menjadikan pendidikan sebagai sarana bisnis belaka.

Di tempat penulis, sudah menjadi rahasia umum jika seseorang ingin mendapatkan ijazah, entah itu setingkat SMU (melalui Kejar Paket C), atau setingkat Sarjana, cukup menyediakan uang dalam jumlah tertentu sudah bisa memiliki ijazah yang diharapkan tersebut. Jumlah tatap muka kelas? Jangan ditanyakan lagi, hampir tidak pernah ada. Paling umum hanya ada di hari sabtu dan minggu, di tempat yang kurang representatif karena pinjam lokal sekolah swasta, itupun belum tentu ada dosennya.

Sarjana palsu memang bertebaran, lalu siapa yang pantas dan layak disalahkan atas semua hal tersebut? Pemerintah? Meskipun kesalahan mutlak bukan menjadi domain pemerintah, tapi sebagai regulator dan penguasa tentulah pantas kesalahan itu dibebankan pada pemerintah. Kenapa? Dengan adanya temuan Sarjana, Ijazah, dan Sekolah Tinggi yang meragukan kualitasnya, bukan tidak mungkin ada oknum Pemerintahan yang turut bermain dalam lingkaran tersebut.

Bagaimana cara mereka bermain? Tentu tidak ada cara lain selain melalui cara perizinan. Dengan mudahnya Pemerintah, melalui pihak yang berwenang, mengeluarkan izin pendirian lembaga pendidikan kepada pihak-pihak yang sejatinya tidak memiliki kapabilitas dan kredibilitas dalam menyelengggarakan pendidikan.

Tanpa melalui survei yang komprehensif, bahkan dengan mudahnya para surveyor dari dinas Pendidikan memberikan persetujuan, padahal sarana, prasarana dan faktor pendukung lainnya bisa dikatakan masih belum layak. Mereka (para surveyor) segera memberika persetujuan setelah saku mereka dijejali amplop berisi lembaran uang yang cukup tebal.

Saya mengatakan hal ini karena di sekitar saya berada cukup banyak lembaga pendidikan yang bertebaran. Mereka cukup mudah mendapatkan izin penyelenggaraan pendidikan meskipun pada kenyataannya muridnya hanya segelintir saja. Mereka semua hanya berorientasi pada keuntungan mendapatkan dana BOS ( baca : Memburu Pesona BOS 1 dan Memburu Pesona BOS 2), mengenai kualitas pendidikan yang mereka selenggarakan mereka abaikan.

Tapi, setidak-tidaknya ijazah yang mereka tawarkan bisa dijamin keasliannya, karena memang lembaga pendidikan tersebut mendapatkan izin penyelenggaraan dari dinas terkait. Yang menjadi pembeda mungkin hanyalah kualitas pendidikan yang mereka selenggarakan dengan segudang keterbatasan. Output yang dihasilkan bisa dikatakan memiliki 2 atau 3 grade lebih rendah dari tataran yang seharusnya. Lulusan SMP, tingkat penalarannya masih sama dengan anak kelas 6 SD.

Entahlah kapan hal ini akan berakhir dan kemudian Indonesia menjelma menjadi sebuah negara yang besar? Atau mungkin hal-hal nista ini akan tetap terjadi di bumi Indonesia sampai akhirnya nanti membawa Indonesia semakin tenggelam dalam kegelapan.

Pakdhe U ® | 2015

Kamis, 25 September 2014

Suatu Hari Di Rumah Sakit

By :  Pakdhe U ®

JBR/id. Pernah suatu ketika saya mengantarkan sebuah keluarga untuk berobat jalan ke sebuah Rumah Sakit Pemerintah. Dua kali saya memberikan jasa angkutan tersebut. Yang pertama, mengantarkan untuk berobat jalan, sedangkan yang kedua, tentulah untuk kontrol. Dari dua perjalanan tersebut, saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa dan saya pikir sangat layak untuk saya share di sini. Semua ini tentang pelayanan yang diberikan oleh pihak Rumah Sakit.

Rabu, 24 September 2014

Dokter Spesialis vs Tukang Pijat

Alakadarnya By : Pakdhe U ®

Jember/id. Membaca judul di atas, tentu anda semua akan bertanya-tanya, kenapa harus dengan tukang pijat? Kenapa bukan dengan dokter spesialis yang selevel? Ini sengaja saya tuliskan demikian, karena memang itu yang menjadi pengalaman saya. Bagaimana dan mengapa?

Jumat, 12 September 2014

Wacana "PILKADA TIDAK LANGSUNG", Dagelan Politik Gaya Baru

Opini By : Pakdhe U ®

Jember.id/ Gonjang-ganjing panggung politik Indonesia kian hari kian seru saja untuk diikuti, meskipun jika dinalar dengan akal waras, sangat jauh dari kata masuk akal. Yang terbaru, dan cukup membuat miris adalah tentang RUU Pilkada yang mengusulkan akan pemilihan Kepala Daerah Tidak Langsung. Alias, jika RUU ini di sahkan oleh DPR, pemilihan Kepala Daerah akan dilakukan oleh anggota Dewan. Saya rasa ini hanyalah sebuah dagelan belaka.

Jumat, 29 Agustus 2014

Memburu Pesona BOS 2

Oleh : Pakdhe U ®

Jember.id/ Dalam posting sebelumnya : Memburu Pesona Bos 1, sudah saya tuliskan tentang kejanggalan dalam program BOS. Melanjutkan tulisan tersebut, kali ini saya akan kembali menuliskan tentang kejanggalan yang lain. Semoga tulisan saya ini dapat menjadi pencerahan yang lain dan sekiranya bermanfaat.

Perihal Sekolah Penerima BOS

Pesona BOS ternyata sungguh luar biasa. Tidak tanggung-tanggung, dengan adanya kemungkinan mendapatkan kucuran dana dari Pemerintah sebanyak (bahkan sampai) ratusan juta rupiah, tergantung jumlah siswa dan kondisi sekolah yang dilaporkan, banyak sekali pihak yang berlomba-lomba untuk mendirikan sekolah.

Pondok Pesantren, yang notabene merupakan lembaga Pendidikan non formal berbasis religi, banyak sekali yang kemudian ganti haluan atau menambah line up pendidikannya dengan membuka sekolah formal, baik untuk tingkat SD, SMP maupun SMK. Mereka berdalih, jika hanya menggeluti dunia Pesantren tanpa dilengkapi dengan sekolah umum, lambat laun mereka akan ditinggalkan oleh peminatnya.

Di sisi lain, adanya program BOS dari Pemerintah Pusat juga menjadi alasan yang (utama) mereka dalilkan, dengan itikad turut mencerdaskan generasi bangsa. Sungguh niat yang mulia, jika ditinjau dari apa yang mereka niatkan. Tapi, bagaimana dengan kenyataan di lapangan?

Di tempat saya berada, terpantau ada kurang lebih tiga Pondok Pesantren yang kemudian membuka sekolah umum. Satu untuk tingkat SD, satu lagi untuk tingkat SMP dan yang terakhir untuk tingkat SMK. Yang benar-benar saya ketahui hanyalah yang untuk tingkat SD dan SMP, karena tempatnya sangat dekat dan selalu saya lewati.

Beberapa personil dari sekolah tersebut ada juga yang saya kenal dengan baik dan bahkan sering sekali meminta bantuan kepada saya untuk membuatkan ini dan itu, segala sesuatu terkait dokumen sekolah serta konsultasi tentang IT. Mereka itulah yang kemudian menjadi sumber terpercaya saya dalam menulis posting ini.

Salah satu sekolah yang saya maksudkan, selalu menerima dana BOS sebanyak 10 juta rupiah. Berdasarkan peraturan, seharusnya dana yang diterima tersebut digunakan untuk kepentingan sekolah dan siswa. Perawatan berkala, pengadaan bangku, penyusunan program, gaji guru danpengadaan buku siswa.

Tapi lain halnya di sekolah ini, jumlah dana yang sudah terpotong untuk LPJ BOS (baca posting sebelumnya), terpotong lagi untuk membayar upeti kepada petugas UPT Kecamatan (baca lengkap posting ini), ternyata masih dipotong lagi oleh pemilik Yayasan untuk membangun Pondok Pesantren. Sisanya itulah barulah digunakan untuk hal-hal yang seharusnya didanai oleh BOS.

Akibatnya, seluruh personil hanya mendapatkan gaji yang sangat sedikit, meskipun untuk kepentingan LPJ BOS, mereka selalu menandatangani stat gaji fiktif. Kenapa fiktif? Mereka hanya menerima tidak lebih dari Rp.100 ribu per bulan, tapi dalam stat yang  mereka tandatangani gaji mereka bernilai Rp. 500 ribu sampai Rp. 700 ribu.

Ironisnya, karena kekurangan dana setelah dipotong sana sini, keadaan sekolah, khususnya bangku, buku siswa dan alat tulis kantor, menjadi terbengkalai. Ada yang rusak tidak terurus. Keadaan siswa juga demikian. Seharusnya mendapatkan bantuan seragam, sepatu dan kebutuhan sekolah lainnya, mereka terpaksa menuju sekolah dengan seragam bekas, atau baru tapi dengan keadaan seadanya. Miris!

Perihal Sumber Daya Manusia

Tidak berhenti hanya sampai di sini, membicarakan BOS sama halnya dengan membicarakan antara ayam dan telur. Tidak pernah ketemu ujung pangkalnya, sehingga lebih tepat disebut “mengurai benang kusut” atau “menegakkan benang basah.”

Sebagai sebuah Program, BOS tentulah memerlukan adanya Sumber Daya Manusia yang unggul, jujur, pekerja keras dan memiliki integritas baik terhadap tugasnya. Tapi, dari yang saya ketahui,dan mungkin sudah menjadi Rahasia Umum, kebanyakan pihak yang terkait dengan BOS selalu bertindak menyimpang.

Kebutuhan akan adanya LPJ, dimanfaatkan oleh oknum UPT Dinas Pendidikan untuk mempersulit pihak sekolah dalam persetujuan LPJ, serta bekerjasama dengan oknum lain di lingkungan pendidikan membuka celah peluang jasa penulisan LPJ. Akibatnya, LPJ yang sebenarnya amburadul, kacau balau, tidak sistematis, mengandung data-data fiktif dan saling tumpang tindih informasi sekolah satu dengan sekolah lainnya, malah menjadi yang disetujui.

Dengan mudahnya mereka membuat laporan pertanggung jawaban yang hampir sama, namun ajaibnya selalu tanpa masalah. Jumlah dana BOS yang dilaporkan selalu menunjukkan sisa anggaran nol, padahal sebenarnya masih ada anggaran yang tersisa. Mereka berdalih bahwa dana BOS harus dihabiskan tanpa sisa. karena jika tidak maka dana BOS tidak akan cair. Padahal dalam buku panduan penyusunan LPJ BOS, dana bos boleh bersisa dan dimasukkan dalam laporan sebagai sisa anggaran.

Ironisnya, dana tidak terpakai yang tidak masuk laporan tersebut, kemudian menjadi ladang pemerasan bagi oknum UPT. Setiap pengawas datang, pihak sekolah harus menyediakan uang transport ratusan ribu rupiah. Apakah mereka tidak mendapatkannya dari kantor? Belum lagi untuk menjamu mereka dan sebagainya.

Dan, pada saat dana BOS cair, ada lagi oknum yang meminta sebagian dana tersebut untuk rapat, sosialisasi dan segala tetek bengeknya yang nilainya juga ratusan ribu rupiah. Sungguh merupakan tindakan tidak terpuji, maka pantaslah kemudian jika kebanyakan dari mereka (oknum-oknum) itu mendapatkan penyakit berat dan menakutkan seperti diabetes, kanker, liver, jantung dan penyakit dalam lainnya. Kenapa? Karena makanan yang mereka konsumsi diperoleh dengan cara yang tidak semestinya, diperoleh dari keculasan, ketamakan, sehingga menjadikan tidak berkah.

Jika mental kita masih seperti ini, bukan tidak mungkin Indonesia tidak akan mencapai kejayaannya kembali. Niat mulia Pemerintah, dengan meluncurkan program BOS, ternyata harus berakhir dengan penyimpangan penyimpangan seperti ini. Sungguh sia sia trilyunan rupiah anggaran negara hanya menjadi “bancakan” (jawa = kendurian) pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab.

Mereka telah silau oleh pesona BOS yang sangat menggiurkan, sampai sampai melupakan tujuan awal mereka dalam mengelola lembaga pendidikan adalah untuk mencerdaskan generasi bangsa. Mereka tenggelam dalam euforia ketamakan sehingga program Pemerintah yang seharusnya bisa menjadi pelecut semangat mereka dalam mengabdi, malah mereka jadikan ladang penghasilan untuk mengeruk kekayaan pribadi.

Ditulis bukan untuk menghujat atau mencemarkan siapapun juga, melainkan untuk sekedar diketahui dan diharapkan bisa menjadi bahan renungan sehingga dikemudian hari akan ditemukan solusi yang baik atas permasalahan ini.

Pakdhe U ®

Kamis, 28 Agustus 2014

Memburu Pesona BOS 1

Oleh : Pakdhe U ®

Jember.id/ Judul di atas saya yakin menyimpan banyak makna dan menghasilkan banyak pula penafsiran. Tapi, sebelum terlalu jauh terjebak dalam kata-kata multi tafsir, perlu saya jelaskan bahwa kata “BOS” di atas bukanlah sebuah kata benda. Bukan seseorang atau atasan, melainkan merupakan sebuah singkatan dari Bantuan Operasional Sekolah.

BOS, atau bantuan operasional sekolah adalah merupakan sebuah program Pemerintah dalam upaya meningkatkan pemerataan kesejahteraan, khususnya dalam bidang pendidikan. Diharapkan, jika program ini berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh Pemerintah, maka pelaksanaan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia akan berjalan dengan mudah, murah, terjangkau dan mampu menyentuh lapisan paling bawah dari warga negara Indonesia.

Sungguh sebuah tujuan yang sangat mulia, mengingat sektor Pendidikan adalah merupakan salah satu jembatan utama yang akan mengantarkan Bangsa Indonesia menuju tanah kemakmuran. Tanpa pendidikan yang memadai, kita takkan mampu menghadapi ketatnya persaingan dunia modern. Kita tak akan mampu menjadi pemimpin untuk setidaknya diri kita sendiri. Karena apa? Pendidikan sangatlah vital.

Dalam kesempatan kali ini, saya sengaja memposting tulisan dengan judul sebagaimana di atas, demi melihat beberapa kenyataan pahit yang sempat saya temukan di daerah saya, terkait pelaksanaan BOS tersebut tentunya, yang meski sebenarnya tidak bisa dijadikan cerminan hal tersebut juga terjadi di daerah lain.

Banyak hal mengejutkan yang terjadi di daerah saya terkait dengan pelaksanaan BOS yang mungkin luput dari perhatian Pemerintah Pusat. Hal tersebut sebenarnya nampak sangat jelas di depan mata, namun entah kenapa dan oleh siapa, seolah ada kabut yang sangat tebal menutupi semua kejanggalan tersebut sehingga tidak ada satupun hal yang mendapat penanganan khusus.

PERIHAL PELAPORAN BOS

Dalam petunjuk pelaksanaan bagi setiap sekolah yang menerima dana BOS, diwajibkan untuk melakukan pelaporan pertanggung jawaban secara tertulis, sistematis dan valid kepada Departemen terkait. Dalam pelaporan tersebut, setiap pengeluaran yang menggunakan dana BOS harus disertai dengan bukti-bukti sah yang resmi dan meyakinkan berupa nota belanja, kwitansi dan faktur atau sejenisnya. Periode pelaporan pun juga diatur sedemikian rupa secara berkala setiap pergantian semester.

Pada suatu ketika datang kepada saya seorang kolega, yang beliau merupakan operator pada salah satu sekolah Dasar Swasta yang baru berdiri di bawah naungan Dinas Pendidikan. Sebut saja beliau Sobat. Sobat ini datang untuk meminta (lebih tepatnya : memohon) bantuan kepada saya untuk menyusun Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) dana BOS.

Sobat ini datang dengan membawa serta berkas-berkas yang mungkin sangat saya perlukan dalam penyusunan LPJ BOS nanti, termasuk beberapa kwitansi pengeluaran,nota belanja dan beberapa hal lainnya. Meskipun menyusun LPJ BOS merupakan hal yang masih baru bagi saya, tapi dengan berbekal buku pedoman penyusunan LPJ BOS yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan, saya menjadi memiliki keyakinan yang cukup kuat. Tentu, saya juga masih harus didampingi oleh Sobat saya ini.

Dengan cukup menguras waktu dan tenaga, pada akhirnya LPJ tersebut jadilah sudah. Bukan main senang dan riangnya Sobat saya dan bayangan akan cairnya dana BOS sepertinya sudah ada di depan mata. Tanpa menunggu lama, sobat langsung mengumpulkan LPJ tersebut kepada UPT Pendidikan setempat.

Apakah diterima? Ternyata tidak! Dengan alasan banyak hal yang kurang sempurna, terlalu mengada-ada dan sebagainya. Bahkan dari sisi layout penyusunan dinilai kurang sistematis, katanya. Malah, sobat ini diarahkan untuk menemui seseorang, sebut saja Pren, untuk kembali menyusun LPJ yang benar.

Tanpa banyak pertimbangan, saya setujui usul tersebut dan kemudian saya turut mengantarkan Sobat saya menemui Pren. Ternyata, ada sejumlah biaya untuk mendapatkan LPJ yang diharapkan. Tidak besar sih, cuma Rp. 200 Ribu saja, dan dijanjikan keesokan harinya sudah bisa diambil. Wah, cepat sekali? Saya saja membutuhkan waktu hampir seminggu, eh si Pren ini malah cuma semalam saja.

Saya penasaran dengan hasilnya dan saya katakan kepada Sobat untuk tidak mengumpulkan lebih dulu, karena saya ingin membaca dan  mempelajari LPJ yang disusun oleh Pren itu. Sobat setuju dan pada saat LPJ diambil, saya langsung membaca dan mempelajarinya. Sungguh sesuatu yang sangat luar biasa! Ternyata di dalamnya sangat banyak sekali kesalahan tulis. Seharusnya tertulis nama SD tempat sobat saya mengajar, tapi justru tertulis sekolah lainnya. Sepertinya LPJ tersebut hanya copy paste saja dari LPJ sekolah lain.

Dengan membawa sedikit harapan LPJ diterima, saya dan sobat mengumpullkan LPJ ke UPT. Apa yang terjadi? Tanpa membuka selembar-pun halaman, petugas yang menerima hanya menanyakan apakah LPJ ini buatan Pren? Ketika dijawab iya, langsung LPJ tersebut diterima dan kami langsung dapatkan tanda terimanya. Ajaib!

Ajaib! Sebuah LPJ yang layout tulisannya amburadul, terkesan dan nampak sekali hasil copas, bahkan lebih semrawut dari tulisan saya, eh langsung diterima tanpa catatan hanya bermodal kata “ya LPJ ini buatan Pren” sungguh ajaib. Ternyata, setelah saya telisik lebih jauh lagi, si petugas ini mendapatkan sedikit bagian dari Pren atas hasil tulisannya.

Inilah sebagian kecil dari pesona BOS yang menjadi incaran kaum-kaum intelek yang tidak bertanggung jawab. Si Pren, yang merupakan tokoh pendidikan, menyusun LPJ BOS dengan modal setumpuk stempel puluhan toko, penyedia jasa, rumah makan dan semua stempel tersebut fiktif, yang mengutip biaya atas jasanya. Bekerjasama dengan orang internal UPT, tentu dengan imbalan bagi hasil yang cukup.

Bayangkan; untuk sebuah SD dipungut 200 ribu. Jika yang diarahkan ke Pren ini ada 100 SD dalam sebuah kecamatan, berapa rupiah yang mampu digali? Sekitar Rp. 20 juta. Jumlah yang sangat fantastis. Bagaimana dengan SMP atau dengan kecamatan lainnya?

Sebenarnya masih banyak hal lain terkait BOS yang ingin saya share dalam blog saya ini. Tapi sepertinya akan saya sampaikan dalam posting saya berikutnya, yang insya Allah besok.

Ditulis bukan untuk menghujat atau mencemarkan siapapun juga, melainkan untuk sekedar diketahui dan diharapkan bisa menjadi bahan renungan sehingga dikemudian hari akan ditemukan solusi yang baik atas permasalahan ini.

Bersambung ke : Memburu Pesona Bos 2

Pakdhe U ®

Senin, 28 Juli 2014

ISRAEL Itu Siapa?

By : Pakdhe U ®

Jember.id/ Israel…. Siapa sih sebenarnya Israel itu? Apakah mereka adalah sekumpulan Ahli Kitab yang merasa dirinya paling benar? Atau hanya sekumpulan bandit-bandit pengecut yang mengaku-ngaku sebagai (keturunan) Dewa? Tidak ada yang tahu! Yang orang tahu hanyalah; dari jaman kemaluan saya masih disumpal popok, sampai sekarang sudah memiliki anak yang membutuhkan popok, tidak ada lain hal yang selalu dilakukan oleh Israel kecuali senantiasa menebarkan maut, mengobral kematian dan mengumbar kejahanaman mereka dalam menumpahkan darah.

Pertanyaan saya adalah; apakah mereka tidak memiliki Tuhan? Apakah mereka tercipta dari setiap tetes darah manusia tak berdosa yang telah mereka bantai? Atau justru sebenarnya mereka tidak pernah terlahir sebagai manusia; karena jika mereka terlahir sebagai manusia tentulah tidak masuk akal jika perilaku mereka selalu mengumbar derita, bagai perilaku Iblis Laknat.

Sudah tak terhitung banyaknya; nyawa anak-anak Lebanon (pada masa perang Lebanon), nyawa anak-anak Palestina, Wanita yang tak berdosa, dan masyarakat sipil yang sebenarnya sangat mendambakan perdamaian. Ratusan, ribuan dan bahkan jika dihitung sejak berdirinya Zionis tersebut,mungkin angkanya akan menyentuh jutaan. Inikah yang disebut perilaku Ahli Kitab? Sementara mereka senantiasa menafikkan kebaikan-kebaikan yang diajarkan dalam (hampir) semua Kitab Suci?

Pada era perang Lebanon, para petinggi-petinggi militer Israel mendalilkan alasan demi menghadapi milisi Taliban (kalau saya tidak salah; soalnya waktu itu saya masih pakai popok) yang notabene merupakan kelompok perlawanan dengan persenjataan ala kadarnya. Saat ini, yang didalilkan adalah demi menghadapi kelompok Hamas yang juga hanya bermodalkan persenjataan ala kadarnya (jika dibanding persenjataan Israel).

Pesawat tempur canggih, tank canggih dan persenjataan modern lainnya menjadi kelengkapan standar Israel dalam menghadapi Hamas, atau lebih pantas justru masyarakat sipil Palestina yang hanya bermodal ketapel dan roket biasa. Salahkah saya jika kemudian menyebut Israel sebagai sekumpulan bandit-bandit pengecut? Betapa tidak; untuk menghadapi serbuan ketapel, senjata ringan dan roket biasa, mereka mengerahkan tank-tank besar, tekhnologi iron dome, dan jet-jet tempur canggih. Kalau mereka berani dan fair, perang satu lawan satu belum tentu akan mereka menangkan.

Sekali lagi; Israel itu siapa? Kok sampai-sampainya Perserikatan Bangsa-Bangsa seolah kehilangan taji, kehilangan gigi dan kehilangan suara menghadapinya. Padahal beberapa diantara target yang dihancurkan Israel adalah Fasilitas milik PBB. Kemana PBB? Apakah mereka sibuk mengganti Popoknya yang basah, demi melihat kebiadaban Israel?

Ingat, para petinggi Dewan Keamanan PBB, perdamaian adalah hak segala bangsa; tidak perduli mayoritas, minoritas, bahkan memiliki paham yang berbeda, perdamaian sangat mutlah harus diupayakan oleh PBB. Tapi; Israel itu siapa? Kok PBB terlihat begitu takutnya mengeluarkan sanksi. Padahal jika PBB bekerja dengan berlandaskan pada hati nurani, bukan tidak mungkin Israel dengan segala arogansinya, dengan segala klaim kebenarannya dan dengan segala kebiadabannya akan segera sembuh dari penyakit algojonya.

Apa gunanya PBB tetap berdiri jika menghadapi Israel saja bagaikan kucing bertemu anjing. Tentu kita semua tahu siapa yang kucing dan siapa pula yang anjing?! Jika begini terus, sebaiknya bubarkan saja PBB, toh tidak ada manfaatnya bagi perdamaian dunia. Gedung PBB yang megah itu, rubah saja jadi hotel atau rumah sakit!

Untuk bangsa Palestina yang saat ini sedang tertindas oleh Israel, saya hanya bisa berdo’a untuk kesabaran, kebesaran hati dan kekuatan anda dalam menghadapi kebiadaban tanpa ujung ini. Semoga pula kesabaran dan kekuatan tersebut akan mengiring Bangsa Palestina menuju Kejayaan di sisi Allah dan bagi yang menjadi korban meninggal, Allah telah menjanjikan mereka dalam keadaan SYAHID karena telah meninggal dalam membela akidah dan Panji-panji Islam. Insya Allah.

Untuk semua umat Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan semua umat yang mengaku memiliki Tuhan, mengaku sebenarnya sebagai manusia yang beradab (bukan biadab), ayo kita galang persatuan, kita padukan do’a (dengan cara masing-masing) kita untuk saudara kita di Palestina agar senantiasa diberkahi kekuatan, keimananyang teguh dan ketegaran tanpa batas. Ayo kita pelopori Gerakan Kemerdekaan Palestina dari Zionis biadab. Ayo kita bersatu padu mendorong PBB untuk bertindak lebih tegas atau sebaiknya membubarkan diri saja.

Ingat; Israel bukanlah siapa-siapa. Israel hanyalah manusia biasa yang berdarah merah; terluka ketika dilukai, bahkan bisa mati kapan saja. Israel bukanlah Dewa yang menganggap dirinya paling benar. Bukan tidak mungkin, jika kita semua bersatu, Israel hanya akan menjadi sisa peradaban manusia yang terbengkalai.

JIKA TIBA SAATNYA

bolehlah kamu menderukan mesiu

dari laras-laras bersimbah darah

dari burung besi bersayap api

dan lentera padam di tanganmu.

tertawalah kamu bagaikan dajjal

ketika kehidupan tercabik dari tubuh anak anak

ketika kesucian terenggut dari wanita wanita

tak berdosa.

ingatlah….

jika tiba saatnya langit menurunkan petunjuk

tersibak ruang menembus tujuh angkasa

jalan bagi serdadu-serdadu langit merapat

tangannya kekar

mata yang sangat tajam menatap.

kamu tidaklah akan bisa berkelit

sejuta serdadumu takkan bisa menangkis.

kamu hancur dalam kepalan serdadu langit

kamu binasa dalam tatapan mata mereka

kamu musnah sebagai yang terlaknat

bahkan keringatmu takkan bersisa

Bentuk keprihatinan atas melempemnya PBB terhadap Israel; By Pakdhe U | 2014.

Sabtu, 30 November 2013

Dimana-mana Ada “Tikus”

Something Else : Pakdhe U ®

Jember.id.. Membicarakan tikus, biasanya identik dengan sesuatu hal yang menjijikkan, sesuatu tentang penggerogotan dan kadang juga dikaitkan dengan penyakit menular. Umumnya, tikus dikaitkan dengan tindakan yang bersifat penggelapan, pungutan liar maupun ketidakjujuran. Tikus, secara kasar dilekatkan pada sosok seorang yang korupsi.

Membaca judul di atas, timbul pertanyaan; apakah tempat kita memang parah, sampai-sampai ada tikus dimana-mana? Tapi, tikus dalam judul tadi adalah sebuah bahasa kiasan yang merujuk pada oknum koruptor, pemeras dan pemungut liar, yang notabene memang tersebar dimana-mana.

Sekarang, janganlah kita menjadi munafik atau menafikkan diri terhadap kenyataan yang ada. Jangan pula kita mencoba menutup-nutupi apa yang sangat jelas terlihat diantara kita. Jangan pula kita menjadi naif dan pura-pura tidak tahu dengan kenyataan yang sudah menjadi rahasia umum ini.

Tahun depan adalah tahun politik bagi Indonesia. Bukan tidak mungkin, mulai saat ini sudah ada gerakan-gerakan yang bertujuan untuk mendulang suara pada Pemilu nanti. Para team sukses calon atau bakal calon yang maju, dengan atau tanpa sepengetahuan si calon atau bakal calon, sudah mulai melaksanakan pendekatan-pendekatan material ke calon pemilih potensial. Ini artinya, dengan menggunakan bahasa halus, Tikus-tikus sudah mulai bergerilya melakukan politik uang. Catatan: Tidak semua calon dan bakal calon melakukan tindakan ini!

Beralih ke bidang lain; pendidikan. Jual beli kedudukan Kepala Sekolah, Kepala UPT dan beberapa jabatan Struktural lainnya, sepertinya sudah menjadi hal yang umum, meskipun tidak terlihat secara nyata. Ada beberapa kasus yang mengindikasikan hal ini; satu orang yang jujur dan jauh dari lingkaran birokrasi, cerdas secara alami dan sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin; ternyata pada kenyataan di lapangan harus rela tunduk pada rekannya yang lebih dekat ke lingkaran birokrasi, lebih berbobot (baca: tebal dompetnya), meskipun secara intelektual tergolong standar.

Di bagian lain, LPMP (Lembaga Peningkatan Mutu Pendidikan) yang bertugas untuk menuntun para pendidik untuk menjadi lebih tinggi tingkatan profesionalitasnya, ternyata juga gatal ikut bermain-main ala tikus. Dengan halus mereka menawarkan jasa pembuatan PTK (Penelitian Tindakan Kelas; Sejenis karya tulis untuk prasyarat kenaikan pangkat/golongan) dengan menyebutkan sejumlah biaya yang dikatakan untuk penggantian materi dan administrasi. Yang tergiur dengan tawaran ini, harus merelakan 5 juta rupiah untuk mendapatkan nilai kredit poin sempurna.

Sedangkan bagi mereka yang “lurus-lurus” saja, memilih menyusun sendiri PTK, harus menerima kenyataan nilai kredit poin mereka hanya 1 atau nol, meskipun sebenarnya karya mereka termasuk baik. Sedangkan bagi yang mampu memberikan sedikitnya 1 juta, angka kredit untuk PTK yang diperoleh hanyalah 1 saja.

Hiruk pikuk pendataan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) juga mengguratkan sepenggal cerita tentang tikus-tikus kantor. Operator sekolah yang merasakan kesulitan untuk mengisi data yang diperlukan untuk sinkronisasi Dapodik, harus rela menghadapi kenyataan bahwa pihak Operator UPT Kecamatan siap mengerjakan input atau revisi data yang dimaksud, tapi kesiapannya tersebut diikuti dengan bisik-bisik tentang adanya biaya administrasi yang besarnya tergantung kesepakatan namun dihitung per kepala siswa dari sekolah yang diupdate datanya. Andaikan sebuah sekolah memiliki siswa 100 orang dan biaya yang dikutip hanya 10 ribu per kepala, ini artinya tikus tersebut meraup pendapatan satu juta rupiah?!

Ada juga cerita tentang pungutan tidak resmi bagi para penerima tunjangan profesi yang besarannya antara 500 ribu sampai 1 juta, dengan dalih pemerataan bagi mereka yang belum mendapatkan sertifikasi. Bahkan ada daerah yang sengaja menunda pencairan tunjangan ini selama beberapa bulan untuk didepositokan, untuk meraup bunga dari deposito tersebut. (diceritakan oleh oknum pelaku yang pernah bertemu saya dan mengira saya hanya tukang rumput biasa) Pelakunya kebetulan petugas Bank yang bekerjasama dengan pihak UPT. (Catatan: Kebenaran versi ini masih perlu diragukan, karena saya dan atau kolega saya tidak mengalami sendiri).

Ada juga cerita tentang Pak kampung yang dengan lahapnya meminta sejumlah uang (nilainya tidak tentu, tergantung keadaan ekonomi warga) untuk pengurusan KTP, Kartu Keluarga, Surat Kematian, Akte Jual Beli tanah dan segala hal terkait administrasi kependudukan. Meskipun nantinya di Kantor Desa masih ada juga pungutan dengan dalih sebagai biaya administrasi.

Apapun yang saya sampaikan dalam tulisan kali ini adalah merupakan contoh-contoh betapa Tikus itu sudah menyebar dimana-mana. Lingkungan manapun yang “basah”, berlimpah uang, memiliki potensi pemasukan uang yang besar dan memiliki potensi bisa diperalat, maka Tikus itu betah berlama-lama di tempat tersebut.

Coba anda amati sekitar anda? Mungkinkah apa yang saya tulis, juga menjadi pengalaman anda?….

Penulis : Pakdhe U ® | Windows Live Writer | Blogger | You Tube | Copyright © 2013.

Baca Juga :

Kamis, 28 November 2013

Yuuk Kita Korupsi, Bro…

Something else By : Pakdhe U ®

Jember.id.. Membaca judul di atas, siapapun pasti akan bertanya dengan sedikit hati terhenyak. Masa mungkin saya mengajak kita semua melakukan korupsi? Satu hal yang sebenarnya menjadi perbuatan terlarang (berdasarkan undang-undang) di Indonesia, tapi sebenarnya masih belum tuntas terberantas.

Oleh karena itu, saya sengaja mengajak kita semua untuk melakukan korupsi, dengan terang-terangan dan kalau perlu dibuat payung hukum, sehingga tindakan (korupsi) ini menjadi sah. Ini semua saya lakukan sebagai kesengajaan karena saya sudah teramat sangat geregetan sekali dengan kebiasaan korupsi yang dilakukan oleh pejabat kita,baik di tingkat atas maupun di tingkat desa.

Beberapa jam yang lalu saya bertemu dengan seorang kenalan yang kebetulan mengabdi menjadi BPD (kalau tidak salah kutip;Badan Perwakilan Desa), dan baru pulang dari Kantor Desa. Dia, bersama anggota BPD yang lain dipanggil oleh Pak Kades terkait rumors di masyarakat tentang akan adanya demontrasi menyangkut PRONA, atau Program Nasional Sertifikat Tanah Gratis.

Masyarakat berdemo karena dalam pengurusan Sertifikat tanah tersebut, ternyata masih dipungut biaya sampai Rp. 700 ribu. Pak Kades memang mengakui adanya pungutan itu, tapi beliau juga menerangkan kemana larinya uang sebanyak itu?

Ternyata, uang sebanyak itu digunakan untuk “Menjamu” team pertanahan yang datang dari Kabupaten untuk melakukan verifikasi lahan. Team tersebut berjumlah 8 sampai paling banyak 10 orang, datang setiap minggu. Setiap kali selesai melakukan pengukuran, mereka selalu mengajak Pak Kades untuk makan-makan Ayam Panggang dengan nilai transaksi Rp. 200 Ribu.

Bahkan ada diantara mereka yang juga dengan bahasa tubuh mengisyaratkan kalau mobil yang mereka tumpangi membutuhkan bensin. Terpaksa mereka diberi uang bensin Rp. 100 ribu. Di lain pihak, menurut Pak Kades, Perangkat Desa yang mengantarkan para petugas tersebut juga meminta jatah uang bensin dan uang makan.

Kalau tidak melakukan sedikit pungutan, dari mana Desa akan mendapatkan uang yang dibutuhkan untuk memenuhi keinginan para petugas dari Kabupaten? Sebab, mereka mengancam akan memperlama proses jika kebutuhan mereka (makan enak dan bensin) tidak terpenuhi. Waah, kalau begitu ya repot!

Saya mencoba menghubungi warung tempat Pak Kades biasa “dipaksa” menjamu orang-orang Kabupaten tersebut. Dan, berdasarkan pengakuan pemilik warung, memang benar bahwa Pak Kades bersama tamu-tamunya dari Kabupaten selalu makan di tempat tersebut setiap minggunya.

Yang jadi pertanyaan saya? Apakah team tersebut tidak mendapatkan uang operasional dari Pemerintah? Bukannya setiap ada program gratis, apapun yang terkait dengan pengeluaran sepertinya dan memang seharusnya ditanggung oleh negara. Lalu, dalam rangkaian peristiwa ini, yang sebetulnya menggelapkan uang negara itu siapa? Siapa yang korupsi?

Saya jadi teringat ucapan salah seorang rekan saya yang lain, seorang mantan Kepala Desa yang akhirnya berhenti karena tidak tahan dengan kelakuan Camatnya. Bagaimana tidak, setiap ada bantuan program dari Pusat, bapak camatnya selalu meminta bagian. Ngomongnya sih seikhlasnya, tapi ketika cuma diberi Rp. 100 Ribu malah mencak-mencak.

Rekan saya ini langsung menyodorkan kuitansi ke camat, sambil mengatakan untuk mengambil berapapun yang dimau asalkan ditulis di kuitansi. Eh, Pak Camatnya marah-marah dan tak berapa lama, rekan saya ini berhenti menjadi Kades. Pusing, katanya. Mana dana dari pusat cuma turun (terealisasi) 60%, eh masih dimintai bagian sama Pak Camatnya.

Tapi kemudian rekan saya yang satu ini mengatakan pada saya; “Ya ibaratnya pipa air, meskipun bertugas mengalirkan air, masa juga tidak basah?”, yang kalau diartikan mungkin begini; Sebagai rantai birokrasi yang menyalurkan bantuan dari pusat, masa tidak ada sebagian kecil bantuan tersebut yang tersangkut ke badan? Kalau pendapatnya seperti ini, ya repot!!

Dilewati bantuan seharusnya bertindak jujur dan amanah, kok malah mencoba mencari celah untuk bisanya kecipratan. Lalu, bagaimana bisa, dan kapan Indonesia akan terbebas dari kebiasaan korupsi? Maka dari itu, Yuuk Kita Korupsi, Bro….

Bagaimana dengan di Desa anda? Bagaimana dengan di Kabupaten anda? Bagaimana dengan di Provinsi anda? Jika anda menemukan kesamaan cerita dengan apa yang saya sampaikan, itu menandakan bahwa korupsi memang tidak akan pernah bisa diberantas!!! Jika demikian, lebih baik kita tetap berpegang teguh dengan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita.

Bertani…ya bertani saja. Sopir…ya sopir saja. Koruptor….ya silahkan saja korupsi, karena sesungguhnya semua apa yang kita kerjakan akan selalu dimintai pertanggung jawabannya kelak. Kapan? Bahkan sang waktu pun tidak akan bisa memberikan kepastian. Namun yang pasti, masa itu akan segera datang!!

Pakdhe U ® | Windows Live Writer | Blogger | You Tube | Copyright @2013.

Terkait :

Jumat, 09 Agustus 2013

Pasang Surut Kehidupan

Kisah Inspiratif Dalam Mengisi Waktu

Oleh : Pakdhe U ®

Jember.id—Kehidupan, sebagaimana waktu, ada batasnya. Selama rentang awal sampai titik akhir bertemu, kehidupan akan mengalami banyak sekali perubahan demi perubahan. Laut, mengalami pasang naik maupun pasang turun, itulah pasang surut air laut. Pun dengan kehidupan manusia, adakalanya kita naik membubung tinggi menggapai kesuksesan, adakalanya pula kita terjerembab turun ke titik paling rendah menuju kehancuran dan kebangkrutan. Sedang dimanakah kita saat ini?

Apakah saat ini kita sedang menggapai sukses? Ataukah hanya sedang menjalani proses menuju sukses? Mungkin, kita saat ini berada pada pertengahan jalan, entah menuju naik atau turun, yang pasti kita hanya tinggal menunggu sampai ‘lonceng’ itu berbunyi, menetapkan kemana kita akan terbawa.

Sangat menarik jika saya mengamati peristiwa demi peristiwa di masa lalu. Tentang kejayaan suatu peradaban. Kejayaan suatu kekuasaan, maupun kejayaan seseorang. Namun, yang menarik dari semua peristiwa tersebut adalah saat dimana Kejayaan tersebut mencapai titik kulminasi dan akhirnya jatuh terjerembab, bahkan sampai tidak meninggalkan bekas sama sekali.

Pada masa kejayaan prasejarah, kehidupan dinosaurus dan makhluk-makhluk raksasa purba sejenisnya, begitu nampak kokoh dan seakan tidak akan pernah tumbang. Namun, seiring berjalannya waktu, dan waktu sepertinya sudah sampai pada batasnya untuk berbalik, maka dalam sekejap dan perlahan, kejayaan prasejarah runtuh. Makhluk-makhluk raksasa purba tersebut akhirnya ‘punah’ begitu saja, dan hanya meninggalkan jejak-jejak sisa peradaban mereka dalam bentuk rupa fosil belaka.

Pun demikian dengan kisah-kisah kejayaan Raja Namrud, Raja Fir’aun, dan raja-raja yang menguasai peradaban jaman kenabian. Pada masanya, mereka adalah penguasa yang memiliki peradaban tinggi dan seolah tidak akan pernah tersungkur sejengkalpun. Namun, atas Kehendak Allah SWT, peradaban yang begitu tinggi (atau pongah), dalam hitungan jari, harus tumbang, hilang dan tenggelam termakan zaman. Diantara peradaban mereka, ada yang meninggalkan jejak peradaban, seperti Raja Fir’aun. Bahkan ada yang tidak meninggalkan jejak kejayaan mereka samasekali.

Lalu, bagaimana dengan kisah Kejayaan Imperium Romawi? Kejayaan Yunani? Kejayaan Turki? Kejayaan Majapahit? Kejayaan Bangsa Aztec Maya? Serta Kejayaan peradaban-peradaban lain yang tentu masih banyak yang tidak saya sebutkan. Mereka semua bernasib sama; yaitu tumbang tanpa bisa bertahan menjadi yang terbesar, terkuat dan abadi.

Pelajaran apa yang kita petik dari semua kisah di atas? Ya benar! Waktu akan membawa kita melalui pasang naik dan pasang turun kehidupan. Tidak ada satu hal-pun yang abadi, atau bertahan dalam satu status yang sama. Tidak ada satupun kekuatan adidaya yang abadi, semuanya tinggal menunggu giliran untuk tumbang. Sementara, di lain pihak ada pula yang sedang menunggu giliran untuk bangkit.

Saat ini Amerika Serikat boleh berbangga sebagai negara adidaya, adikuasa, super power dan paling dominan dalam mengatur hitam putihnya dunia. Tapi, jika merunut pada siklus sebagaimana kisah-kisah kejayaan lampau, mungkin juga Amerika Serikat tinggal menunggu waktu untuk ‘Tumbang’ sebagaimana negara-negara adidaya pada masa sebelum saat ini. Mungkin waktu tersebut dalam hitungan hari, minggu, bulan atau tahun. Mungkin juga dalam hitungan abad, siapa yang tahu? Saya rasa itu sudah menjadi Hak Allah SWT untuk menentukan kapan ‘lonceng’ itu dibunyikan.

Kemudian ada pertanyaan,’lalu siapakah yang kemudian dibangkitkan kejayaannya?’ Bisa jadi China yang menjadi adidaya berikutnya. Mungkin juga Afrika, setelah semua negara di benua tersebut bersatu. Atau bisa saja Indonesia, India, Australia atau Jepang. Semua tidak ada yang tahu, meskipun semuanya sepakat penasaran dengan apa yang akan terjadi bertahun-tahun ke depan.

Bagaimana kita harus menyikapi hal tersebut? Tenang dan hanya tenang saja. Jalani saja rutinitas seperti biasanya, tanpa harus terlalu takut, terlalu ambisi dan terlalu pesimis. Kita jadikan diri kita sebagai pihak yang apa adanya serta benar-benar mengisi semua celah waktu yang ada dengan hal-hal terbaik yang bisa kita lakukan. Mungkin dengan begitu, kejayaan kita akan cepat teraih, atau setidaknya sedikit diperpanjang, sebelum akhirnya benar-benar tumbang. (Pakdhe U ®/windows live writer/blogger/2013)

Sabtu, 27 Juli 2013

Rahasia Pesugihan

Orang Indonesia Sulit Bangkrut!

Oleh : Pakdhe U ®

Jember,IN—Bangkrut? Mungkin itu kata yang tidak akan pernah ada dalam kamus (sebagian) orang Indonesia. Mengapa? Meskipun mereka tidak akan pernah bisa kaya sampai berlebih, mereka yakin tidak akan pernah bangkrut. Beberapa hal yang mendasari pernyataan ini adalah sebagai berikut :

Terbiasa Hidup Prihatin

Benar! Orang Indonesia, berbekal pengalamannya dijajah Bangsa Asing selama ratusan tahun, tentu sudah terbiasa hidup dalam keprihatinan. Makan nasi aking, nasi tiwul atau cuma makan umbi-umbian, adalah hal yang lumrah bagi (sebagian besar) masyarakat Indonesia.  Orang Indonesia, khususnya yang tinggal di pedesaan, tidak akan pernah merasa kekurangan pangan. Asal ada air dan umbi-umbian, sudah cukup untuk hidup.

Lain ceritanya bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Perkotaan. Apalagi mereka yang sudah teracuni gaya hidup hedonis ala kapitalis kebllinger, mereka akan mati-matian hutang sana hutang sini asal gaya hidup mereka terpenuhi dan yang terpenting tidak kelaparan. Meskipun demikian, orang-orang yang demikian juga tidak pernah mengenal kata bangkrut. Asal masih bisa hutang, atau meminjam uang perusahaan, atau juga korupsi, mereka masih bisa melenggang.

Coba lihat saja kasus Century, kasus Lapindo dan kasus-kasus sejenis lainnya. Meskipun secara finansial mereka (pengusaha-pengusaha itu) bangkrut dan dinyatakan pailit, toh mereka masih tetap berjaya dengan kemewahan hartanya. Mengapa? Karena yang menanggung kebangkrutan mereka adalah Pemerintah!

Bayangkan saja, yang bikin ulah pengusaha Century, eh yang bayar kerugian (bail out) kok pemerintah. Demikian juga dengan Lapindo; yang bikin ulah Lapindo, eh yang bayar ganti rugi kok Pemerintah. Pemillik Lapindo? Ya masih tetap bermewah ria deh!

Punya Prinsip : Asal Bisa Makan

Khusus bagi masyarakat kelas bawah, kelas yang selama ini hanya menjadi pelengkap kehidupan perpolitikan di Indonesia (karena tidak pernah didengar dan hanya dibutuhkan kuantitasnya demi mendulang suara pemilu), memegang teguh prinsip Asal Bisa Makan adalah kunci berikutnya dalam menghadapi krisis ekonomi, sehingga mereka tidak mungkin bangkrut. Kelaparan? Iya! Tapi bangkrut, sampai habis-habisan, maaf saja, tidak!

Pun demikian dengan masyarakat kelas atas, kelas yang selama ini selalu menjadi anak emas dalam perebutan kekuasaan (karena penghasilannya yang berlebih diharapkan mampu didulang demi membiayai keperluan politik dengan imbalan kemudahan usaha dan sebagainya), juga menomor-satukan prinsip yang sama, Asal Bisa Makan, meskipun tidak jelas halal atau haramnya.

Nekat

Hal terheboh berikutnya dari masyarakat Indonesia yang membuat sulit bangkrut adalah Nekat. Tidak perduli penghasilan pas-pasan, tidak perduli keadaan perusahaan kembang kempis, demi gaya dan penampilan, kebanyakan dari masyarakat Indonesia sengaja mengambil kredit kendaraan, baik motor maupun mobil. Meskipun demikian, mereka hanya membayar angsurannya sebulan dua bulan saja. Selebihnya, biarkan diambil kembali oleh pihak leasing. Atau, bahkan ada pula yang sengaja digelapkan. Yang penting gaya! Uang nipis, makan terbatas, yang penting bawa motor sport mahal. Butuh uang? Dijual saja!

Mobil MewahMobil Mewah 1

Berburu Pesugihan

Indonesia terkenal dengan gudangnya ilmu klenik (ilmu yang terkait dengan hal-hal ghaib atau supranatural), diantaranya adalah terkait dengan ritual pesugihan. Ritual pesugihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan penghasilan pribadi atau meningkatkan kekayaan materi secara instan. Mungkin, hanya berbekal kembang tiga rupa, kemenyan dan beberapa pantangan yang harus dihindari, sudah cukup menjadikan seseorang lebih cepat kaya.

SCR_0004_Converted

Menurut seorang yang saya kenal, dia adalah seorang juru kunci di sebuah makam keramat tempat orang-orang biasa berburu pesugihan, kategori dan jenis pesugihan ada bermacam-macam. Diantaranya adalah:

  1. Ritual penglaris; biasanya lebih diminati oleh para pedagang pasar maupun pemilik toko kelontong. Ritual ini termasuk jenis pesugihan yang ringan, karena tidak memerlukan tumbal atau persyaratan apapun kecuali hanya menyediakan mahar dan waktu tertentu untuk melakukan ritual secara rutin. Biasanya hanya bakar kemenyan di waktu-waktu tertentu (biasanya jum’at legi, dalam penanggalan jawa) serta menyediakan kembang tiga rupa.
  2. Ritual Uang Kembali; biasanya hal ini diminati oleh orang-orang dengan penghasilan tidak tetap atau keluarga kecil yang penghasilannya pas-pasan. Ciri dari pesugihan ini adalah dengan menggunakan uang pecahan besar (Rp. 100.000,- atau setidaknya Rp. 20.000,-) yang tentunya sudah perlakukan ritual khusus, untuk membeli barang-barang dengan harga yang murah. Atau bisa juga dengan modus pura-pura menukar uang dengan pecahan yang lebih kecil. Saya pernah mengalami hal ini; ketika itu saya curiga ketika ada tetangga (yang disinyalir kaya terlalu cepat) tiba-tiba berniat menukar uang Rp. 100.000,- dalam pecahan kecil. Uang tersebut sengaja saya simpan khusus di tempat yang hanya saya yang tahu. Ternyata, pada keesokan harinya, uang tersebut sudah hilang. Pesugihan jenis ini termasuk jenis sedang, karena hanya merugikan secara ekonomi bagi korban atau target yang akan dituju tanpa memerlukan tumbal nyawa.
  3. Ritual Ngipri; Ritual ini sama halnya menukar jiwa kita dengan perwujudan binatang yang kita pilih (biasanya babi, celeng, kera atau anjing), dengan begitu menjadi lebih leluasa dalam menghisap kekayaan target atau korban kita. Pesugihan ini memiliki banyak istilah; diantaranya adalah babi ngepet, asu daden, dan sebagainya. Hal ini termasuk pesugihan jenis agak berat, karena sangat beresiko terhadap nyawa pelakunya. Ini mengingat dalam melakukan ritual ini, lilin atau lampu minyak yang dipersiapkan khusus tidak boleh mati. Sebab, kalau mati maka tamatlah riwayat pelaku tersebut. Atau juga jangan sampai tertangkap atau ketemu orang, sebab bisa-bisa wujud si pelaku tidak akan pernah kembali. Yang menjadi tumbal dalam ritual jenis ini adalah si pelaku itu sendir.
  4. Ritual Barter atau Perjanjian; Ini adalah jenis pesugihan yang paling berat, karena peminat pesugihan jenis ini langsung melakukan perjanjian dengan siluman atau setan yang menempati makam keramat atau punden pesugihan. Isi perjanjiannya macam-macam; bisa memberikan anak pertamanya sebagai tumbal, Istrinya, Mertuanya dan bahkan orang lain yang dikehendakinya. Dalam kurun waktu tertentu,orang-orang yang diajukan sebagai tumbal tersebut akan mati dengan (kelihatannya) wajar, namun setelah itu, kekayaan si pelaku akan berlipat ganda. Cara mendaftarkan seseorang untuk menjadi tumbal juga cukup mudah, yaitu melalui makanan atau barang-barang pemberian yang sudah diperlakukan secara khusus kepada target pada saat-saat tertentu; misalnya setiap selasa wage atau jum’at legi (dalam penanggalan jawa).

Meskipun hal-hal tersebut di atas termasuk tindakan yang tidak dibenarkan oleh Agama, Islam khususnya, karena termasuk Syirik dan Musyrik (maaf, kalau tidak salah), ternyata orang-orang yang berminat melakukan hal tersebut banyak juga yang bertitel Haji, termasuk juga pandai membaca Al-Qur’an dan termasuk golongan orang-orang yang mengerti Agama. Ini berdasarkan penjelasan dari kenalan saya yang juru kunci makam keramat tersebut.

Sebagai catatan, saya mengenal orang ini (yang menjadi juru kunci makam keramat) pada saat perjalanan naik bus malam menuju Jakarta, mengunjungi keponakan yang hendak khitan. Mengingat profesinya yang cukup menarik, sekalian saja saya gali informasi tentang profesi tersebut. Bahkan, saya juga ditawari untuk mengambil paket pesugihan tertentu agar saya bisa memiliki kendaraan sendiri. Tentu saja saya menolak tegas penawaran tersebut.

Namun, ketika saya balik bertanya, mengapa tidak dia saja yang menjalani atau mengambil jalan pintas pesugihan tersebut. Dia hanya menjawab; Takut resikonya. Ya, begitulah!

Saya rasa, inilah jawaban mengapa Indonesia selalu bisa berkelit menghadapi krisis ekonomi bertubi-tubi. Meskipun ekonomi dunia dilanda resesi, namun demikian penjualan barang-barang konsumsi, termasuk kendaraan dan elektronik, di Indonesia tergolong meningkat cukup pesat. Boleh percaya, boleh tidak, tapi itulah kenyataan yang ada. Itulah Indonesia! (Pakdhe U ®/Windows Live Writer/Blogger/2013)

***..

Kamis, 25 Juli 2013

Penyebaran Manusia

Menguak Sejarah Awal Peradaban

Oleh : Pakdhe U ®

Jember,IN—Bumi, sebagaimana kita ketahui saat ini, memiliki populasi manusia setidaknya lebih dari 2 milyar orang. Terdiri dari berbagai jenis warna kulit, profil garis wajah, bentuk dan rambut, serta berbagai jenis perbedaan-perbedaaan fisik lainnya. Ada sebuah pertanyaan dari seorang sahabat, pada saat sama-sama di sawah; bagaimana bisa ada manusia yang berkulit hitam, berkulit putih, berkulit kuning dan rambutnya juga macam-macam. Padahal, kata Ustadz, manusia itu berasal dari pasangan Nabi Adam dan Hawa?

Populasi Manusia

Demi memecahkan pertanyaan tersebut, saya kemudian merenung dan mengulang kembali pelajaran sewaktu masih sekolah dulu. Memang benar, sejak  masih sekolah kita selalu diajarkan bahwa manusia merupakan anak keturunan dari Nabi Adam dan Hawa. Dari beliaulah kemudian manusia berkembang hingga dalam wujud dan jumlahnya saat ini.

Jika pertanyaanya adalah bagaimana bisa menjadi beragam rupa dan bahkan bahasa? Itulah yang kemudian mendorong para ahli untuk memecahkan misteri tersebut. Hingga kemudian muncullah teori-teori kontroversial, seperti yang diungkapkan oleh Charles Darwin; bahwa manusia berasal dari kera dan mengalami evolusi bentuk hingga menjadi bentuknya yang sekarang. Teori ini disebut sebagai teori Evolusi Darwin.

Antara kera dan manusia memang memiliki kemiripan fisik, bahkan secara genetik juga hampir mirip. Namun, meskipun demikian perbedaan yang ada jauh melebihi persamaan yang ditemukan. Kera adalah kera. Sebangsa binatang yang seperti itu adanya. Sedangkan manusia tidaklah termasuk jenis binatang. Manusia adalah makhluk mulia yang diciptakan Allah untuk menjadi Khalifah di muka bumi. Meskipun pada kenyataannya, banyak sekali manusia yang sesat, kejam (lebih kejam dari binatang) dan justru menjadi perusak di muka bumi.

Manusia adalah makhluk yang sempurna akal dan pikirannya, sehingga memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap lingkungan dimana dia tinggal. Manusia juga sangat mudah dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsinya. Sehingga, bentuk fisik, garis wajah, warna kulit, serta bahkan warna dan model rambut juga akan berbeda.

Tidak usah jauh-jauh menelusuri ke jaman purba, saat inipun bisa kita amati hal-hal yang demikian. Lihatlah perbedaan manusia-manusia yang tinggal di pesisir dengan yang tinggal di pegunungan? Dari bentuk fisik, tekstur kulit dan juga warna kulit, pasti nampak ada perbedaan yang cukup menyolok. Manusia yang tinggal di daerah bergunung-gunung akan nampak lebih bersih (putih) kulitnya jika dibanding dengan manusia yang tinggal di daerah pesisir. Mengapa? Karena perbedaan suhu rata-rata yang mempengaruhi semua hal itu.

Eropa, Amerika, Australia dan negara-negara di daerah dingin lainnya, pasti mempunyai kecenderungan berkulit dan berambut putih jika dibanding dengan negara di daerah tropis atau subtropis. Pun demikian dengan faktor makanan yang dikonsumsi setiap harinya, pasti akan mempengaruhi juga terhadap bentuk fisik manusia secara keseluruhan.

Intinya adalah; kita yakini kebenaran tentang Nabi Adam dan Hawa sebagai Bapak dan Ibuk moyang manusia. Katakanlah, beliau diturunkan di suatu tempat di Asia Kecil, meskipun sampai saat ini masih menjadi perdebatan, berkembang sampai ratusan generasi banyaknya. Sekedar catatan, berdasarkan keterangan dalam Kitab Suci dan Al-Qur’an, manusia pada zaman ini bertubuh tinggi besar dan berumur hingga ribuan tahun.

Katakanlah umur manusia sampai seribu tahun, sedangkan masa baligh atau kedewasaan manusia setidaknya umur 14 tahun, maka dalam seribu tahun akan tercipta sebanyak 71 generasi. Ini diperoleh dari 1000 tahun : 14 tahun = 71, sekian. Jika setiap generasi memiliki 2 anak, maka generasi yang diturunkan berlipat ganda pada kelipatan tersebut. Entahlah, saya tidak ingin ribet dengan hitungan ini, tapi yang pasti hampir seperti itulah gambarannya.

Berhubung dalam satu wilayah sudah cukup banyak populasinya, ditambah mungkin ada perselisihan satu dengan yang lain, sebagaimana dikisahkan dalam riwayat Nabi Adam pada pelajaran sewaktu sekolah dulu, maka beberapa diantara mereka melakukan migrasi besar-besaran menuju satu tempat baru dan mengembangkan keturunannya di tempat itu.

Dengan perkembangan yang cukup pesat dan mungkin perselisihan kembali, maka kisah migrasi kembali terulang dan terulang terus sampai manusia memenuhi hampir semua tempat di muka bumi ini. Perlu dicermati, selain karena meledaknya populasi dan perselisihan, bencana alam, seperti banjir besar, gunung meletus, gempa bumi ( yang semuanya mungkin merupakan azab Allah bagi kaum tertentu, sebagaimana disebut dalam Kitab Suci), juga merupakan penyebab meluasnya populasi manusia.

Kembali ke pertanyaan awal, mengapa kemudian manusia bisa menjadi berbeda-beda secara fisik maupun perilaku, dan bahasanya? Semua kembali kepada waktu. Jika terjadinya perubahan itu dalam waktu sehari atau dua hari saja, tentu perbedaan itu tidak akan pernah ada. Tapi, hal ini terjadi ratusan, bahkan hingga ribuan tahun. Kita yang awalnya tinggal di kota pesisir dan berkulit agak gelap, dalam kurun 10 tahun saja sudah berubah menjadi lebih terang dan halus kulitnya setelah pindah ke dataran tinggi yang subur. Bagaimana jika kurun waktunya ribuan tahun?

Ingat, tulisan ini bukanlah teori yang diutarakan oleh ahli. Namun, ini lebih mendekati kepada penjelasan yang logis secara nalar dan didasarkan atas pengetahuan saya yang terbatas. Selebihnya dari itu, hanyalah kemungkinan belaka. Semoga menjadi bahan pertimbangan bagi yang lebih ahli untuk menguak sejarah awal peradaban manusia. (Pakdhe U ®/Windows Live Writer/Blogger/2013)

Minggu, 21 Juli 2013

Teori Tentang Peradaban Awal

Benarkah Indonesia Menjadi Awal Peradaban?

Oleh : Pakdhe U ®

Jember,IN—Saya cukup tergelitik mengenai beberapa tulisan yang beredar di dunia maya. Semua tulisan tersebut berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Profesor Santos, yang menyebutkan bahwa Atlantis, Benua yang tenggelam dan merupakan awal peradaban maju manusia, ada kemungkinan berada di kawasan Sundaland, atau wilayah barat Indonesia, meliputi Jawa, Kalimantan, Sumatera, Semenanjung Malaysia dan seterusnya.

Tentang bukti-bukti yang diajukan sebagai penguat teori tersebut, bisa dikatakan memang cukup kuat, jika didasarkan pada keterangan Plato tentang Atlantis. Yaitu suatu tempat yang selalu bermandikan matahari. Sedangkan tempat yang dimaksud, sudah barang tentu adalah tempat di sepanjang garis khatulistiwa. Salah satu diantaranya adalah Indonesia.

Cukup bangga? Belum sepenuhnya! Karena, wilayah yang berada di garis khatulistiwa tidak hanya Indonesia saja. Di Benua Afrika saja ada beberapa negara yang berada di garis Khatulistiwa; misalnya Kenya, Uganda, Zaire, Kongo dan Gabon. Sedangkan di Amerika Selatan, ada Brazil, Ecuador, Colombia dan Peru. Sekarang, manakah yang lebih memungkinkan menjadi kandidat sebagai tempat Atlantis yang hilang?

Atlantis, melihat dari namanya tentu bisa dihubungkan dengan Samudra Atlantik. Sedangkan wilayah yang berbatasan dengan Samudra Atlantik dan berada di garis equator adalah; Brazil sebelah timur. Lalu mengapa peninggalan peradaban tinggi justru terdapat di Peru? Yaitu sisa-sisa peradaban suku Maya, Machu Pichu, di sekitar pegunungan Andes.

Satu hal yang bisa dijadikan alasan adalah, ketika banjir besar terjadi di Atlantis, sebagian penduduknya yang selamat mengungsi ke arah barat, mengingat Pegunungan Andes merupakan tempat yang tinggi sehingga dianggap aman sebagai tempat pengungsian. Di tempat tersebut, mereka melanjutkan peradaban mereka dan kemudian menamai laut yang menenggelamkan mereka sebagai Atlantik.

Sebagian lagi dari mereka mengungsi ke arah timur, yaitu ke Afrika dan berlanjut ke Mesir. Itulah kemudian yang menyebabkan peradaban Mesir kuno begitu tinggi dan hampir identik dengan peradaban suku Maya di Peru. Ada kemungkinan banjir besar tersebut datangnya perlahan-lahan seperti datangnya laut pasang, sehingga masih ada kesempatan bagi semua penduduk untuk mengungsi, meninggalkan semua keindahan negeri mereka. Kalau boleh dikatakan, kisah mereka ada kemiripan dengan kisah masyarakat desa Siring, Sidoarjo, yang tenggelam oleh lumpur Lapindo.

Bagaimana dengan Indonesia? Mungkin Indonesia memang bukan tempat Atlantis berada. Tapi, jika mengingat sebagian besar fosil manusia purba ditemukan di Indonesia, termasuk juga fosil-fosil manusia gua yang tersebar di seantero Nusantara, masih ada kemungkinan Indonesia merupakan tempat awal manusia diturunkan. Apakah ini berarti Nabi Adam diturunkan di Indonesia? Saya tidak berani berspekulasi atau mengeluarkan teori tentang hal itu. Yang pasti, fosil manusia purba, fosil manusia raksasa dan kuburan-kuburan panjang banyak ditemukan di Indonesia. Kita semua pernah mendapatkan pelajaran bahwa, manusia pada jaman Nabi Adam sangat besar dan tinggi. Lalu hubungannya apa? Silahkan dipikirkan sendiri.

Terlepas dari hal-hal yang saya tulis di atas, permasalahan dimana letak Atlantis, dimana manusia pertama turun dan siapa yang sebenarnya menjadi awal peradaban manusia, adalah hal yang tidak layak untuk diperdebatkan. Selain hal tersebut memang tidak debatable, juga hanya akan menjadikan kita seolah terkungkung oleh sesuatu yang tidak pasti. Yang jelas, semua itu biarlah tetap menjadi misteri Allah sepanjang masa. Sedangkan apa yang terjadi, sebagaimana dikisahkan dalam beberapa Kitab Suci dan juga Al Qur’an, adalah memang untuk menjadikan kita semakin Iman dan Takwa.

Namun demikian, jika kemudian hari memang benar-benar ditemukan peninggalan Atlantis, entah di Indonesia atau di Amerika Selatan atau di Afrika, janganlah kemudian kita berbangga diri menyebutkan itu sebagai penemuan terbesar sepanjang peradaban. Justru, kita harus semakin hati-hati dalam menjalani hidup sebagai manusia dan semakin mempertebal Iman dan Takwa kita, karena sesungguhnya apa yang diceritakan dalam Kitab Suci dan Al Qur’an adalah benar adanya.

Bagaimana dengan Anda? (Pakdhe U ®/windows live writer/blogger/2013)